UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

TARAKAN

Jumat, 14 April 2017 23:59
Andis, Si Bocah Putus Sekolah Memilih Berjualan Pakaian

Cita-cita Jadi Pengusaha, Lebih Suka Hemat

(Muhammad Azhar/Kaltara Pos) LELAH : Andis terlihat lelah singgah di salah satu angkringan di Jalan Mulawarman usai berjualan.

PROKAL.CO, Bagi peselancar dunia maya, penjual pakaian cilik ini bukan asing lagi. Di laman grup facebook Peduli Kota Tarakan (PDKT) misalnya, aktifitas anak bernama Andis ini kerap diposting dan dikomentari pengguna media sosial. Siapa sebenarnya Andis dan mengapa dia harus menghabiskan masa mudanya untuk berjualan pakaian? Simak penuturannya kepada Kaltara Pos.

 

MUHAMMAD AZHAR, Kaltara Pos

===========================

GURATAN lelah tergambar jelas di wajah Andis saat baru tiba di sebuah angkringan di bilangan Jalan Mulawarman sekira pukul 00.35 Wita. Tengah malam! Ya, di malam buta itu, dia belum pulang ke rumahnya setelah seharian mencari nafkah dengan berjualan selimut. Melihat Andis yang datang dan tiba-tiba, orang-orang yang ada di angkringan pun mulai membahasnya. Ada yang mencoba menyapa, ada yang mencoba menebak asalnya, bahkan ada yang heran mengapa bocah penjual selimut ini bekerja sampai tengah malam.

“Dik, mau minum apa?” suara pemilik angkringan, Tino tiba-tiba memecah lamunan sesaat remaja berusia 13 tahun tersebut.

“Sudah, tidak usah malu. Pilih aja, mau kopi atau milo? Gratis kok,” tawar Tino setelah melihat Andis yang bergeming.

Sejurus kemudian, mata Andis bergeser ke arah Milo sasetan yang tergantung. Tangannya langsung menunjuk, “itu,” singkatnya.

Sembari menunggu minuman yang siap menghangatkan tenggorokannya yang lelah, Andis pun saya coba dekati. Dari pertemuan awal itu, tak ada yang berbeda dari Andis saat saya lihat secara langsung maupun saat foto Andis disebar melalui akun facebook. Remaja asal Sengkang, Sulawesi Selatan itu memang bekerja sebagai penjual selimut. Jika kesan di facebook, Andis terlihat pendiam, saat saya temui, Andis juga sering menjawab seadanya saat saya tanya.

Tak lama, minuman yang ditunggunya dihidangkan Tino. Usai menuntaskan tegukan pertamanya malam itu, Andis pun terlihat mulai bersemangat diajak berbicara. Andis juga mulai tak malu-malu bicara. Dari semangatnya ini, saya pun mendapati jawaban yang cukup mengejutkan. Ternyata, dia datang ke Tarakan untuk berjualan selimut untuk membantu kedua orang tuanya dalam mencari nafkah.

Tak banyak yang dia dapatkan. Tapi sedikit rezeki itu paling tidak telah berguna bagi kedua orang tuanya yang ada di kampung halamannya di Sulawesi Selatan dan sisanya untuk menyambung hidup. Beruntungnya lagi, anak bungsu dari dua bersaudara ini bekerja pada sepupunya yang juga merupakan penjual selimut. Pria yang sudah berkeluarga itu, kata Andis, bernama Fahmi.

Namun yang sangat disayangkan, gara-gara harus menyambung hidupnya, Andis harus mengorbankan waktunya mengenyam pendidikan. Dia terpaksa harus menghentikan sekolahnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Alasannya sudah jelas, karena faktor ekonomi orang tua.

Bapaknya bekerja di kebun dan ibunya yang berprofesi sebagai penenun kain tak sanggup melanjutkan niat Andis untuk menjadi pelajar yang baik di sekolah. Karena sudah berhenti, keinginan sekolah Andis pun tidak ingin diulanginya lagi. Dia mengaku sudah sangat menikmati profesinya sebagai penjual selimut keliling, sehingga waktu sekolah dianggapnya tak perlu lagi. “Tidak punya niat lagi mau lanjut sekolah, seperti ini saja sudah cukup,” kata Andis dengan nada suara yang nyaris tak terdengar.

Usai mengutarakan niatnya tak ingin sekolah lagi, Andis kembali mencicipi Milo pesanannya. Sedikit demi sedikit dia seruput hingga akhirnya kembali menikmati obrolannya dengan saya. Andis menyebut, dia menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki dari rumah ke rumah. Langkah demi langkah dia tapaki, bahkan dia pernah berjualan sampai ke Juata hanya untuk mencari pembeli.

Beruntung, kata Andis, tidak setiap saat dia harus jalan kaki ke arah Kelurahan Karang Harapan dan Juata Kerikil dan Juata Permai. Masih ada juga warga yang mengungkapkan rasa kasihnya kepada Andis dengan cara memberikan tumpangan ke Juata Permai, bahkan Juata Laut. Mencari tumpangan itu harus dia lakukan agar bisa menghemat uang makan dan transportasi yang diberikan oleh sepupunya. Maklum, bagi warga perkotaan, jalan kaki dari Lingkas Ujung ke Juata adalah pekerjaan yang amat melelahkan. Jika tak ada yang memberikan tumpangan, makan jalan kaki adalah pilihan paling pas bagi Andis.

“Kalau mau pulang aja baru cari tumpangan, tapi kalau uang masih cukup, naik taksi. Tapi kadang jarang ada kendaraan kalau sudah tengah malam. Jadi, kadang jalan aja sambil jualan, tetap jualan sepanjang jalan menuju ke rumah,” ucapnya santai.   

Andis mengaku, menjual barang dagangannya berupa selimut punya sepupunya juga pasang surut, kadang laku, kadang juga tidak sama sekali. Harganya bervariasi. Ada yang harganya dari Rp 100 ribu hingga ada yang Rp 150 ribu. Namun penghasilan yang dia dapatkan tidak setara dengan kerja keras yang dia lakukan dan biaya jalan yang diberikan. Patut dipahami, Andis yang berjualan sejak pukul 09.00 Wita, pagi hingga tengah malam, tepatnya pukul 01.00 Wita, hanya mendapatkan untung yang tidak menentu. Bila jualannya laris, Andis akan mendapatkan keuntungan Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu. Akan tetapi, bila tak satupun barang jualan Andis  terjual maka yang dia dapatkan hanya rasa lelah akibat berjalan jauh dan biaya yang diberikan oleh sepupunya hanya Rp 20 ribu. Mendengar jumlah uang ini, sejumlah pengunjung pun ikut berkomentar. Mengingat, uang itu untuk jajan dan uang transportasi yang dipastikan tidak akan cukup bagi Andis.

Kan uang Rp 20 ribu itu tidak cukup untuk makan sama transportasi. Terus, kalau haus, mau beli minum pakai apa?” ketus seorang pelanggan yang berada di angkringan.

Namanya juga anak polos. Mendapat pertanyaan pengunjung angkringan yang mendengar kisahnya, Andis santai saja. Dia bahkan tak banyak menanggapi apa yang disampaikan.

“Dikasihnya cuma segitu. Kalau uang saya tidak cukup untuk beli air, saya minta (air minum, Red.) ke penjual ruko atau minta ke rumah-rumah,” jawab Andis sambil sesekali meneguk minumannya yang mulai dingin.

Hingga akhirnya, sejumlah pengunjung makin penasaran. Mereka pun ‘menerjang’ Andis dengan sejumlah pertanyaan. Bahkan ada yang menanyankan kondisi orang tuanya saat ini.  “Terus bapak sama ibu sering telepon? Pernah dipanggil pulang sama bapak-ibu?” tanya seorang pelanggan bernama Ozi.

“Kalau ditelepon sering, pernah disuruh pulang juga,” jawab Andis masih dengan sikap santai.

Di Tarakan, Andis sudah menghabiskan waktu selama setahun. Rasa rindunya pun membuncah. Dia juga berharap bisa pulang ke Sengkang bertemu dengan ayah-ibunya. Namun, segera dia kubur harapan itu lantaran dia tak punya uang untuk membeli tiket kapal. Di bagian ini, pertemuan kami menjadi haru. Mata Andis mulai terlihat berkaca-kaca. Pantulan cahaya lampu angkringan menembus kelopak matanya seolah hendak menumpahkan rindu yang amat sangat. Namun air mata itu tak kunjung keluar. Dia tampaknya menahannya sekuat tenaga.

“Pertama ke sini ikut sama kakak sepupu. Terus uang tiket ditanggung sama bos yang punya jualan selimut,” kataya sambil memperlihatkan barang  dagangannya yang belum terjual satupun hari itu.

Selama menjadi pedagang selimut keliling, Andis mengakui tidak pernah bermain dengan anak seumurannnya. Itu sudah pasti karena waktu yang digunakan untuk bermain sudah habis dia gunakan untuk berjualan hingga tengah malam. Saat sampai di rumah akibat kelelahan, Andis langsung beristirahat untuk melanjutkan kegiatan berjualan keesokan harinya. Begitu seterusnya, hingga suatu hari dia merasa ingin ikut bermain dengan anak-anak yang lain.

“Pengin main, cuman harus jualan. Waktu juga tidak ada, karena malam sudah harus istirahat,” katanya. Sekali lagi, Andis berhasil membuat matanya tak menumpahkan sejumlah keinginannya.

Setengah jam menikmati obrolan dengan Kaltara Pos, Andis pun bangkit. Tak lupa sisa Milo di gelasnya dia tuntaskan sampai habis. Tas berisi selimut dia raih lalu diangkut ke pundaknya untuk dibawa jalan kaki menuju Lingkas Ujung. Jauh? Sudah pasti.  “Loh, mau kemana, sudah mau pulang?” tanya pemilik angkringan.

“Iya, sekalian mau lanjut jualan, siapa tahu ada yang beli,” balas Andis santai.

Karena merasa simpati dengan keadaan Andis, pemilik angkringan tersebut merogoh lacinya lalu memberikan uang Rp 30 ribu untuk biaya Andis berjalan pulang menuju rumahnya di Jalan Cendana, Kelurahan Lingkas Ujung. Jam menunjukkan pukul 01.15 Wita, Andis melanjutkan langkah kecilnya pulang ke rumah dengan harapan, keesokan harinya dia bisa bangun pagi dengan kondisi sehat lalu kembali berjualan. Mungkin saja hari ini dia sedang menawari jualannya pada Anda. (***)


BACA JUGA

Sabtu, 22 Juli 2017 12:04

KPU Waspadai ‘Penyusup’ di PPK dan PPS

TARAKAN – Proses pemilihan wali kota (Pilwali) Tarakan sudah semakin dekat. Sesuai tahapan, pemilihan…

Sabtu, 22 Juli 2017 11:56

Senggolan di Jalan Mulawarman, 2 ABG Dilarikan ke Rumah Sakit

TARAKAN – Kecelakaan lalu lintas tak bisa dihindari 3 remaja bernama Steven, Tiny dan Noflin sekira…

Sabtu, 22 Juli 2017 11:53

Dibawa dari Kampung, Dijanjikan Kerja di Rumah Makan, Eh.. Malah Jadi PSK

TARAKAN – Terdakwa human trafficking, Ocha dan Suryadi hanya bisa diam seribu bahasa saat menjalani…

Sabtu, 22 Juli 2017 11:53

Penjambret Dibekuk, Satu Pelaku Pernah Membunuh

TARAKAN – Upaya aparat kepolisian mengungkap siapa pelaku penjambretan yang selama ini membuat…

Sabtu, 22 Juli 2017 11:51

Kecelakaan Maut di Pantai Amal Masih Didalami

TARAKAN – Hingga saat ini aparat kepolisian tampaknya masih belum bisa memastikan penyebab kasus…

Sabtu, 22 Juli 2017 11:48

Diparkir di Pinggir Jalan, Honda Beat Raib

TARAKAN - Waspadalah jika memarkir motor tepat di pinggir jalan, apalagi jalan tersebut sepi. Pasalnya,…

Jumat, 21 Juli 2017 15:57

Tabrak Pikap, Messi Akui Main HP di Motor

TARAKAN – Bukan pesebakbola dari tanah Argentina yang saat ini membela klub bola FC Barcelona,…

Jumat, 21 Juli 2017 15:55

Tak Puas Pelayanan Istri di Ranjang, Anak Tiri Digarap Sampai Berbadan Dua

TARAKAN – Penyesalan Hendra tidak bisa disembunyikan. Kepalanya hanya bisa tertunduk lesu kala…

Jumat, 21 Juli 2017 15:55

Pesta Sabu di Lingkas Ujung, Andri Dipenjara 6 Tahun

TARAKAN – Meski sudah disasar habis-habisan, bahkan dihukum berat pelakunya, produksi dan pasar…

Jumat, 21 Juli 2017 15:54

Kembangkan Kasus Sabu 4 Kg, Tahanan Lapas Di Jemput BNN

TARAKAN – Belum selesai persoalan penangkapan sipir Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A…

Ada Pungli Selama PPDB, Laporkan!

DPP Tunjuk Abu Ramsyah Pimpin PDIP Tarakan

NGERI! Darah Bercereran di Gunung Amal

Diparkir di Pinggir Jalan, Honda Beat Raib

Lembaga Islam Tak Dilibatkan di STQ, MUI: Maklum Provinsi Baru

Bantah Ilegal, Penambang Pasir Tunjukan Bukti

Balap Liar, JK dan Motornya Diangkut Polisi

STQ Dievaluasi, Perwakilan EO Tak Hadir

Ada Tes Psikologi di Penjaringan Gerindra

Punya 36 Bungkus Sabu-sabu, Nelayan Gondrong Diamankan Polisi
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .