UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

TARAKAN

Jumat, 16 Juni 2017 11:48
Divonis Hukuman Mati, Ayau Ngamuk

Siap Banding karena Yakin Bukti di Persidangan Kurang

DIAMANKAN : Ayau di jaga ketat aparat kepolisian keluar dari sidang, kemarin. (OSARADE/KALTARA POS)

PROKAL.CO, TARAKAN – Terdakwa kasus kepemilikan narkoba 1,5 kilogram dan ribuan pil ekstasi, Ayau benar-benar tak kuasa menahan amarahnya. Dia mengamuk usai divonis hukuman mati oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Tarakan, kemarin (15/6).

Sidang Ayau ini berlangsung ketat. Saking ketatnya, sidang itu sampai harus berjalan dengan tensi yang cukup tegang, bahkan memakan waktu 1 jam 20 menit. Tak hanya itu, sidang ini juga tak luput dari penjagaan super ketat aparat kepolisiaan. Namun, vonis yang diberikan hakim Agustinus Asgari MD SH membuat sidang semakin tegang. Ayau tiba-tiba saja mengamuk dan berteriak. Dia langsung diamankan ke dalam sel PN Tarakan untuk ditenangkan.

Dengan tegas, pria bernama lengkap Mah Su Yaw alias Ayau alias Koko ini mengatakan, dia tidak terlibat dalam perkara percobaan meloloskan sabu-sabu dari dalam Lapas Tarakan sebanyak 1,5 kg dan 2.021 butir pil ekstasi pada tahun 2016. Dia justru menuding, upaya meloloskan sabu-sabu dan pil ekstasi itu dilakukan oleh tahanan Lapas Tarakan lainnya bernama Mus Mulyadi. Menurut dia, Mulyadi telah terbukti membawa barang haram itu yang disembuyikan di dalam pakaian kotornya.

“Yang bersalah itu Mulyadi. Karena dia yang membawa sabu itu, kenapa saya harus dihukum mati!” amuk Ayau ketika berada di sel tahanan PN Tarakan.

Dalam kasus ini, Mus Muliadi telah divonis lebih dulu oleh hakim dengan hukuman 20 tahun penjara pada bulan Mei lalu. Dari Mus Muliadi juga, JPU menemukan bukti bahwa Ayau dan Mulyadi telah melakukan persekongkolan untuk meloloskan sabu sebanyak 1,5 kg dan ribuan pil ekstasi dari Lapas Tarakan. Alasan itulah yang membuat JPU, Sudy SH kukuh menuntut bandar narkoba asal negeri jiran, Malaysia itu divonis hukuman mati. Bak gayung bersambut, tuntutan itu berbuah hukuman mati bagi Ayau.

JPU Kejari Tarakan, Sudy SH mengatakan, tuntutan hukuman mati terhadap Ayau diberikan lantaran Ayau adalah tahanan kasus narkotika di Lapas Tarakan. Dengan adanya kasus yang membelitnya bersama Mus Muliadi, Ayau diduga tetap menjalankan bisnis haramnya itu meski sudah menjadi tahanan karena kasus narkoba. “Terdakwa, merupakan tahanan tapi masih terlibat dengan sabu-sabu skala internasional. Jadi wajarlah kalau saya tuntut dengan hukuman mati sesuai dengan Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika sesuai pasal 114 ayat 2 dan hakim menerimannya,” terangnya kepada Kaltara Pos, kemarin.

Jika JPU mau terbuka dengan media usai sidang, ketua majelis hakim Agustinus Asgari MD SH justru memilih bungkam dan menghindar dari media. Namun, Kasi Hubungan Masyarakat (Humas) PN Tarakan Christo EN Sitorus SH Mhum mengatakan, kalau putusan yang diberikan oleh majelis hakim persidangan Ayau merupakan putusan yang sudah dilihat dan dipertimbangkan dengan bukti dan fakta persidangan.

“Bukti dan fakta persidangannya ada, jadi tidak mungkinlah hakim memutus nyawa seseorang dengan sembarangan,”  tekan Christo ketika dijumpai Kaltara Pos.

Selain itu, Christo menggungkapkan, dia sependapat dengan putusan yang diberikan oleh majelis hakim terhadap terdakwa Ayau. “Negara kita sudah darurat narkoba, jadi saya setuju juga kalau ada terdakwa narkoba yang dihukum mati agar bisa memberikan efek jera terhadap yang lain,” ungkapnya.

Terpisah, pengacara terdakwa, Agustan SH mengatakan, kliennya memilik langkah banding lantaran tak terima dihukum mati. Agustan merasa bukti yang ditunjukkan kepada Ayau kurang kuat untuk menghukum mati terdakwa. “Masak langsung dijadikan dasar untuk menghukum mati Ayau. Makanya, saya selaku pengacara akan secepatnya mengajukan banding,” tegasnya. (*/osa)

 

 


BACA JUGA

Sabtu, 21 April 2018 10:40

Ditinggal Ganti Baju, Pas Keluar Motor Hilang

TARAKAN – Sepeda motor warga RT 53, Kelurahan Karang Anyar, raib akibat ulah si “tangan…

Jumat, 20 April 2018 17:06

Tiga Hari Menghilang, Ditemukan Sudah Jadi Mayat

TARAKAN – Warga Kelurahan Pantai Amal, tepatnya di RT 02, kemarin (19/4) pagi dibuat heboh dengan…

Selasa, 17 April 2018 15:23

Mau ke Kondangan, Malah Berakhir di Rumah Sakit

TARAKAN - Nasib nahas dialami Peter Sanda. Berniat menghadiri acara pernikahan, Minggu (15/4) malam…

Selasa, 17 April 2018 15:21

Karena Burung, Mengantarkan Suhardi ke Penjara

TARAKAN – Suhardi hanya tertunduk tak berdaya di depan majelis hakim. Dia tak kuasa menahan sedih…

Selasa, 17 April 2018 15:20

Tak Hanya Pencurian, Si Tomboi itu Juga Terjerat Narkoba

TARAKAN – Tak hanya terjerat satu kasus, Siti Rahma ternyata melakukan sejumlah tindak pidana…

Selasa, 17 April 2018 15:14

Pemuda Ini Batal Nikah Gara-Gara Ditangkap Polisi, Ini Sebabnya..

TARAKAN – Mungkin pria berinisial TH (26) ini sedang apes. Akibat tertangkap basah oleh Satreskoba…

Senin, 16 April 2018 16:14

Polisi Temukan Toko Distributor Lem Alteko Palsu

TARAKAN - Usai mendapatkan laporan mengenai ada peredaran lem Alteco palsu yang banyak terjual di sejumlah…

Senin, 16 April 2018 14:20

Ketahuan “Nyogok”, Siap-Siap Dapat Sanksi Tegas

TARAKAN - Untuk pertama kalinya Polda Kalimantan Utara (Kaltara) melakukan penandatangan fakta integritas…

Senin, 16 April 2018 14:17

Adu Mulut, Suami Ambil Kursi Sofa lalu Lempar Istri

TARAKAN - Bukannya menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, pria berinisial AN ini malah menggunakan…

Jumat, 13 April 2018 14:26

Benih Kelapa Sawit Ilegal Gagal Diselundupkan

TARAKAN – Selain maraknya aksi penyelundupan sabu di wilayah perbatasan, kali ini aksi penyelundupan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .