UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

RAGAM

Jumat, 16 Juni 2017 12:01
Dua Lengannya Diamputasi, Semangat Berkat Istri Setia

Lebih Dekat dengan Muzaki yang dulunya Adalah Mustahik (21)

SEMANGAT : Meski memiliki keterbatasan, Asbar Pairi tetap semangat berdagang di rumahnya. (JUSMAN/KALTARA POS)

PROKAL.CO, Allah tidak akan menguji umatnya melebihi dari batas kemampuannya. Ya, itulah ungkapan yang sering kali disampaikan oleh Ustaz agar kita senantiasa semangat dalam menjalani hidup ini dalam kondisi apapun. Sama halnya dengan nasib yang dialami oleh Pairi (44). Dia sudah tidak dapat beraktivitas seperti orang-orang pada umumnya. Seperti apa kisahnya? Simak ulasan berikut ini!

 

JUSMAN, Kaltara Pos

 

RAMADAN ke- 20 kemarin, giliran Pairi yang saya kunjungi. Dia adalah salah satu peserta program Pembiyaan Modal Usaha Mustahik (PMUM) yang bekerjasama dengan Badan Amil Zakat dan KSU BMT AL-Fath. Tidak sulit menemukan kediaman bapak tiga anak ini, sebab letaknya persis di tengah  kota, yakni di Jalan Cendawan RT 10 nomor 41, Beringin, Kelurahan Selumit Pantai.

Namun, menuju rumahnya kita harus banyak menemukan belokan. Dari Jalan Yos Sudarso, sebelum samping Bank BPD Syariah, belok kanan ke Jalan Cendawan, kemudian belok kiri, lalu belok kanan, masuk ke sebuah gang kecil berukuran kurang lebh 1 meter, kemudian belok kiri hingga menemukan saluran air berupa gorong-gorong yang membentuk seperti polisi tidur. Di depan gorong-gorong itulah letak rumah Pairi.

Sekilas dari luar, kediamannya terlihat sepeti keluarga yang cukup berada. Sebab dari luar, rumah permanen itu memiliki dinding berwana krim dengan warna jendela cokelat sudah berlantai keramik. Namun di kaki limanya juga terdapat pemandangan yang sudah biasa saya lihat belakangan ini, yakni gantungan bermacam-macam dagangan lengkap dengan sebuah termos yang beris es batu. Sembari mematikan mesin kendaraan roda dua saya, rekan saya Sapriansyah dari BMT sudah berada di depan pintu dan memanggil penghuni rumah. Seketika pula, Pairi keluar menemui kami. Saya sempat mengira keluarga ini adalah keluarga mampu. Namun tak lama,  pemikiran itu berubah ketika melihat kondisi fisik Pairi. Sambutan hangat pun cukup terasa, sebab begitu keluar Pairi langsung mengajak bersalaman dan mempersilakan kami masuk. Awalnya saya sempat terkejut ketika Pairi mengajak bersalaman sebab kedua tangannya sudah tidak ada, namun saya tetap mengulurkan tangan untuk menjabat lengannya itu.

Saya pun berkesimpulan, Pairi adalah sosok pria luar biasa. Pasalnya, dengan keterbatasannya, dia masih mampu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebab di luar rumahnya masih banyak orang yang memiliki lengan dan mampu bekerja dengan baik maupun melakukan hal-hal positif, tapi terkadang kesempurnaan itu tidak dimaanfaatkan dengan baik. Berbeda dengan Pairi yang masih berupaya beraktivitas. Sehingga tak heran, Pairi menjadi ayah teladan bagi anak-anaknya.

Kata demi kata mengiringi perbincangan kami hingga akhirnya saya bertanya terkait kondisi lengannya yang sudah tidak ada itu. “Mohon maaf pak, lengan ini apakah (tidak ada) sejak lahir?” tanya saya.

Pairi menceritakan, sebelumnya dia adalah seorang pria yang memiliki fisik sempurna. Dia lahir di Nunukan dan besar di Tarakan. Dia juga tercatat sebagai alumni SMK 2 Tarakan jurusan bangunan. Pekerjaan pertamanya setelah lulus sekolah adalah receptionis di salah satu hotel tua di Selumit saat ini. Setelah beberapa bulan bekerja, dia mendapat tawaran bekerja di perusahaan jasa pengiriman barang. Karena penghasilannya tergolong lebih besar dari pada bekerja di hotel, dia pun memilih pindah. Setelah itu dia kembali mendapat tawaran bekerja di salah satu perusahan pengeboran minyak mitra PT Pertamina.

Mendapat tawaran itu ia pun berhenti bekerja di jasa pengiriman dan ikut mencari mencari minyak untuk selanjutnya dibor oleh PT Pertamina. Tugasnya hanya mencari sumber-sumber minyak di berbagai daerah di Kaltara, diantaranya, Sembakung, Linuang Kayan, Manjeluntung dan beberapa daerah lainnya. Tak lama, dia kembali pindah tempat kerja, kali ini di pertambangan batu bara pada tahun 2003. Namun bukan pekerjaan ini yang membuat ia kehilangan kedua tangannya.

Ia kehilangan tangannya setelah berhenti bekerja di pertambangan. Saat itu ia memutuskan untuk kembali ke Tarakan berkumpul bersama istrinya Titin Sumarni (41) yang dia nikahi tahun 2001. Ketika kembali dari pertambangan ia diajak untuk ikut bekerja sebagai tukang las. Kala itu di daerah Karang Anyar Pantai salah satu bangunan rumah di sana akan dipasangi pagar besi stainless.

Diceritakannya, kala itu adalah hari Jumat, ia sudah bersiap untuk pulang, namu tiba-tiba besinya datang dan harus diangkat ke lantai dua. Besi itu akhirnya diangkat ke lantai 2 dengan cara saling sambut., Posisinya kala itu persis berada di atas lantai 2, sedangkan 2 orang rekannya berada di bawah. Asyik bekerja, tanpa dia sadari, kabel jaringan listrik PLN yang tak jauh dari bangunan tiba-tiba mengenai besi yang dia pegang. Sontak besi yang dia pegan meledak di tangannya hingga membuat lengannya seperti daging yang telah dimasak. Tidak hanya dia yang menjadi korban kala itu, namun dua temannya juga ikut terkena setrum.

“Saya benar-benar tidak bisa bergerak. Saya hanya bisa melihat, namun tidak bisa melepaskan besi yang saya pegang,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, kemarin.

“Mungkin karena besi stainless licin kan makanya pelan-pelan lepas sendiri. Saya langsung terlempar terhempas di dinding,” kataya.

Akibat kejadian itu, dia bersama teman-temannya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Teman-temannya saat itu sangat syok dengan kejadian mengerikan itu. Sementara dirinya harus menderita karena lengannya sudah masak dan tidak dapat difungsikan lagi. Dia pun harus rela ketika tangannya harus diamputasi. Saat itu usia anak pertamanya adalah 2 tahun.

Akibat kejadian itu, awalnya dia tidak bisa apa-apa lantaran tangannya hilang. Namun dia bersyukur memiliki seorang istri yang setia dan sangat menyanyanginya hingga sang istrilah yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Saat itu istrinya perlahan mulai bekerja di salah satu perusahaan udang di wilayah Perikanan, Jembatan Bongkok. Namun hal itu tak berlangsung lama lantaran tangannya bengkak akibat mengupas udang. Meski tangannya mulai sakit, istrinya tetap bekerja hingga akhirnya mendapat tawaran untuk menjadi tukang ojek. “Ditawari antar jemput anak sekolah, ,” kata Pairi.

Dengan kondisi yang serba kekurangan ini, sejak tahun 2012 dia pun mencoba berupaya untuk menambah penghasilan dengan berjualan es di depan rumahnya dan pelan-pelan juga menjual kebutuhan lainnya. Penghasilan kotornya berjualan walanya terbilang cukup lumayan, yakni bisa mencapai Rp 400 ribu perhari. Namun seiring berjalannya waktu di daerahnya semakin banyak yang berjualan sehingga penghasilannya saat ini hanya berkisar Rp 250-300 ribu perhari.

“Sebelum istri jalan, dipukulkan memang sudah es batu. Jadi, kalau anak-anak datang beli, biar saya buat sendiri,” ujarnya mengakui anak-anak di sekitarnya cukup mengerti dengan keadaannya.

Saat ini Pairi dan istrinya Titin sudah dikarunia 3 orang anak yang saat ini sudah kelas 3 SMP dan anak keduanya akan memasuki SMP, sementara anak ketiganya masih duduk dibangku kelas 3 SD. Meskipun dengan kondisi ayahnya yang mengalami keterbatasan fisik, namun anak-anaknya mengaku tidak minder meskipun teman-temannya datang ke rumahnya melihat kondisi ayahnya.

Semakin tingginya persaingan dagangan di sekitar rumahnya membuatnya harus menambah modal. Itulah yang menjadi alasannya untuk menambah modal dan mendaftar di BAZ Tarakan untuk mendapatkan bantuan pinjaman modal usaha. Saat ini ia Pairi sudah menjadi binaan KSU BMT AL-Fath untukmengembangkan usahanya. “Biasanya kayak Indomi, ambil hanya setengah dus, sekarang setelah ada pinjaman ambil 1 dus,” katanya. (***)

 


BACA JUGA

Kamis, 07 Desember 2017 09:47

Gantikan Rustan, Armin Arifuddin Jabat Ketua PNK yang Baru

TARAKAN – Setelah melalui proses yang panjang Armin Arifuddin resmi pimpin PNK Tarakan. …

Rabu, 06 Desember 2017 23:22

Warga Pedalaman Protes, MAF Terbang Bersyarat

Senin, 27 November 2017 lalu menjadi momen yang tak akan dilupakan warga pedalaman di Bumi Benuanta…

Selasa, 05 Desember 2017 21:01

Cuaca Buruk, Pasien di Long Bawan Tak Dapat Diselamatkan

Berbekal informasi dari Henry yang mengaku sulit menjangkau pedalaman kecuali dengan pesawat, saya pun…

Senin, 04 Desember 2017 23:55

Lambat Tertolong, Bayi Henry-Marlena Meninggal

Bukan rahasia lagi jika warga yang tinggal perbatasan Indonesia-Malaysia, khususnya di Kalimantan Utara…

Minggu, 03 Desember 2017 16:40

Tak Ada Akses Darat, Pelayanan MAF Dinilai Cepat

Polemik izin terbang Mission Aviation Fellowship (MAF) cukup disayangkan banyak pihak. Khusus bagi warga…

Sabtu, 02 Desember 2017 19:08

MAF Amat Dirindukan, Berjasa Buat Warga yang Sakit

Peliknya persoalan izin terbang Mission Aviation Fellowship (MAF) belakangan ini sedang ramai dibahas.…

Senin, 23 Oktober 2017 14:54

Listrik Padam, Rumah Imam Masjid Hangus Terbakar

SESAYAP – Saat tengah istirahat, warga dikejutkan dengan api yang mengamuk dan menghanguskan rumah…

Sabtu, 21 Oktober 2017 11:32

Misteri, Kasasi Jamaluddin Tak Terdaftar di MA

JAKARTA – Perkembangan kasus dugaan korupsi pengadaan perlengkapan acara Pekan Olahraga Provinsi…

Kamis, 14 September 2017 23:03

Peringati Hari Perhubungan, Jalin Silaturahmi Melalui Olahraga

TARAKAN – Beberapa cabang olahraga digelar di Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas).…

Senin, 11 September 2017 10:49

Berikan Tips and Trik TOEFL Untuk Masyarakat

TARAKAN –  Saat ini, pengetahuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam dunia pekerjaan.…

Khidmat, Telkom Sukses Gelar Peringatan Maulid Nabi
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .