UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

RAGAM

Sabtu, 17 Juni 2017 10:51
4 Kali Coba Bunuh Diri, di Usia 80 Tahun Masih Semangat Bekerja

Lebih Dekat dengan Muzaki yang dulunya Adalah Mustahik (22)

TAK TERHALANG USIA : Meski sudah tua masih tetap aktif, bekerja menghidupi diri sendiri. (JUSMAN/KALTARA POS)

PROKAL.CO, Tak terasa kini umat Islam sudah berada di penghujung Ramadan 1948 H. Kaltara Pos pun hingga hari ini masih setia menyajikan sejumlah informasi seputar manfaat zakat yang dirasakan banyak kalangan mustahik. Pada kesempatan kali ini giliran nenek Mega Dian Delima atau nama Tiongkoknya Liem Mei Joen yang saya kunjungi. Dia adalah seorang mualaf yang ayahnya berasal dari Tiongkok (RRC) dan ibunya berasal dari Manado. Kini dia hidup sebatang kara. Seperti apa kisahnya? Simak kisah singkatnya berikut ini!

============

JUSMAN, Kaltara Pos

==============

CUACA cerah seakan mendukung silahturahmi saya ke kediaman nenek Mega yang ada di Kelurahan Karang Anyar Pantai. Sama seperti kunjungan saya di rumah-rumah muzaki dan mustahik sebelumnya, kediaman nenek Mega juga tidak sulit untuk dijumpai. Dari Jalan Cendrawasih, kemudian berbelok ke Gang Pagungtaka, RT 12, yang berukuran sekira 1 meter. Berjalan sekira 150 meter, maka akan menemukan lahan kosong yang sudah ditimbun. Tepat di depannya berjejerlah rumah kayu yang sudah dipetak-petak. Petakan pertama adalah kediaman nenek Mega, tak sulit untuk mengenalinya sebab dari depan kaki limanya sudah dipasangi kawat besi untuk menyimpan dagangannya.

Sayang sekali ketika saya tiba, nenek Mega sedang tidak ada di kediamannya itu. Rekan saya Sapriansyah pun segera menghubunginya. Ternyata nenek Mega sedang pergi ke Pasar Gusher. Nenek Mega memang sedikit akrab dengan rekan saya Sapri, maklum nenek Mega telah menjadi nasabahnya di program Pembiayaan Modal Usaha Mustahik (PMUM) sejak beberapa bulan terakhir ini.

Tak ingin lama menunggu, rekan saya Sapri menjemput nenek Mega yang memang selalu berjalan kaki ketika bepergian. Maklum, nenek Mega tidak punya siapa-siapa sekarang. Hidupnya sebatang kara sehingga apapun yang dilakukannya, dilakukan secara mandiri.

Sekira 5 menit menunggu, datanglah nenek Mega dan Sapri. Cukup terkejut. Sebab sebelumnya Sapri tidak memberitahu saya jika yang kami kunjungi hari ini adalah seorang nenek. Ketika turun dari motor, pandangan saya pun tak lepas dari nenek Mega. Ya, pasalnya jalan nenek Mega dengan celana jeans yang ia kenakan terlihat jelas bahwa dirinya kini tak lagi kuat. Jalannya sekarang sudah terseok-seok. "Assalamualaikum," sapanya kepada saya sembari merapatkan kedua tanganya dan mengangkatnya setinggi dada.

Setibanya Ia langsung membuka gembok pintu rumhnya dan mempersilakan kami masuk. Seketika timbul rasa prihatin melihat kondisi nenek Mega yang sudah renta, namun masih harus melakukan berbagai hal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meskipun umurnya sudah berkisar 80 tahun dan jalannya sudah terseok-seok, jangan khawatir kalau soal bicara. Suaranya masih seperti suara Anak Baru Gede (ABG), setiap kata yang ia ucapkan masih bisa terdengar dengan jelas.

Ketika masuk di kediamannya, tampak rumahnya tidak terlalu terurus. Di ruang tamunya yang berukuran 2x3 meter itu pun terlihat kasur spon yang digunakannya untuk beristirahat bersama 2 kucing kesayangannya. "Nggak ada makanan, puasa juga toh. Kalau saya tidak puasa, kalau puasa nggak kuat. Suka jatuh," ujarnya sembari mempersilakan kami duduk.

Nenek Mega mulai menceritakan, Ia lahir di Bandung tahun 1937. Namun di akta kelahirannya, ditulis lahir di Jakarta tahun 1940. Sesungguhnya Ia sudah memiliki anak, namun semua anaknya berada di Jakarta. Sehingga mereka putus hubungan. Kepergiannya ke Tarakan saat itu masih kecamatan sekira tahun 1980. Alasannya, Ia dan keluarganya di sana tidak akur lagi.

Bahkan, kondisi keluarga yang tidak sejuk lagi membuatnya pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan cara menggantung diri. Namun aksi bunuh dirinya itu gagal setelah diketahui temannya. Akibat kejadian itu, Ia harus dilarihkan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan, sebab lehernya sudah memerah akibat bekas tali yang meilitnya. "Broken home," ujar nenek yang mengerti bahasa Ingris dan Mandarin ini.

Suasananya yang tidak sejuk lagi di Jakarta mengantarnya ke Tarakan. Kedatanganya kala itu pertama kali bekerja di hotel Nirwana. Bekerja selama 6 bulan, akhirnya ia menemukan jodohnya untuk kedua kalinya di Tarakan. Saat itulah Ia menikah dan menjadi mualaf. "Nikahnya dulu di Balikpapan," lanjutnya.                       

Belum lama setelah menikah, Nenek Mega akhirnya ditinggalkan suaminya. Suaminya pergi bersama wanita lain. Kala itu ia mengaku sangat frustasi dan untuk kedua kalinya mencoba bunuh diri. Ia mengaku sudah mencoba bunuh diri dengan mengonsumsi obat terlarang secara berlebihan.

“Teman saya di Jakarta banyak yang meninggal karena overosis. Hingga 4 kali mencoba bunuh diri dengan cara mengkonsumsi obat terlarang, tapi tidak berhasil. Mungkin sudah jalannya, mau mati tapi nggak bisa mati-mati,” urainya.

Setelah mendapat nasehat dari tetangga dan teman-temannya, Ia memutuskan untuk usaha berdagang di Tarakan. Ia memesan barang dari Bandung dan menjualnya di Tarakan hingga sukses dan berhasil membeli 4 petak lahan. Namun tak lama setelah Ia sukses, suaminya yang telah meninggalkannya kembali padanya. “Saya terima dia (Suaminya, Red.), karena saya ini kan juga hidupnya sendiri dan dia juga memohon, makanya saya terima,” ungkapnya.

Semasa bersama suaminya, 4 petak tanahnya malah dijual oleh suaminya, hingga masa tuanya suaminya meninggal dan dimakamkan di Sulawesi. Akhirnya ia kembali hidup sebatang kara dan hartanya yang dikumpulkan semasa ia masih kuat dahulu telah habis bersama suaminya.  Ia mengaku, walaupun sudah tua dan tidak punya apa-apa, ia tidak ingin meminta-minta.

Kesehariannya Ia habiskan untuk berdagang di rumah yang telah Ia sewa. Beberapa macam dagangannya yakni kopi sachet-an, bumbu sachet-an, deterjent sachet-an, minyak makan, dan mi isntan. Selain itu jika ia memiliki uang lebih maka ia berjualan gorengan dan soto. Karena sebelumnya pekerjaannya memang sebagai tukang masak di kamp. “Harus bisa cari makan sendiri, masa kita minta bantuan terus,” pemilik nama asli Liem Mei Joen ini.

Untuk membantu modal usahanya, ia juga tercatat sebagai salah satu peserta program Pembiyaan Modal Usaha Mustahik (PMUM) yang bekerjasama dengan Badan Amil Zakat dan KSU BMT AL-Fath. “Nanti mau ambil modal lagi, mau jual pisang goreng. Kalau modal cekak (kurang, Red.) susah kita,” akuhnya. (***)


BACA JUGA

Selasa, 13 Februari 2018 11:48

Menegangkan! Denjaka Rebut Obyek Vital dari Teroris dengan Serangan Dadakan

SEBATIK – Sejumlah obyek vital di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan dikuasai sejumlah teroris. Namun…

Jumat, 02 Februari 2018 14:15

Jatuh di Malinau, Mayat Muslimin Ditemukan di KTT

MALINAU – Setelah dilakukan upaya pencarian oleh unsur SAR yang terdiri dari Personil Pos SAR…

Kamis, 01 Februari 2018 11:06

Korban Menghilang di Sungai Mentarang Belum Ditemukan

MALINAU - Proses pencarian hari kelima korban kecelakaan di Perairan Sungai Mentarang, Desa Tanjung…

Selasa, 30 Januari 2018 16:34

“Malinau akan Tenggelam”

MALINAU – Ada peristiwa heboh saat terjadi Kondisi Membahayakan Manusia (KMM) di Sungai Mentarang.…

Selasa, 30 Januari 2018 16:32

Satu Warga Belum Ditemukan, Satu ABK Jatuh Lagi ke Sungai

MALINAU – Kondisi Membahayakan Manusia (KMM) kembali terjadi di Malinau, tepatnya di Muara Bengalun…

Senin, 29 Januari 2018 11:21

Satu Korban Hilang di Sungai Mentarang Berhasil Ditemukan

MALINAU – Satu dari dua korban hilang terseret arus Sungai Mentarang akhirnya ditemukan oleh tim…

Jumat, 29 Desember 2017 11:28

BPJS Mati, Beberapa Kali Dibawa ke Dukun

“Hasrat hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.” Inilah kalimat yang diucapkan…

Selasa, 19 Desember 2017 21:54
TARAKAN

Lanud Tarakan Raih Penghargaan Pengelolaan Keungan Terbaik

TARAKAN - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Lanud Tarakan. Dibawah kepemimpinan Kolonel Pnb Didik…

Kamis, 14 Desember 2017 18:39

Khidmat, Telkom Sukses Gelar Peringatan Maulid Nabi

TARAKAN – Suasana khidmat, haru dan menyentuh perasaan menyeruak dari para peserta acara peringatan…

Rabu, 06 Desember 2017 23:22

Warga Pedalaman Protes, MAF Terbang Bersyarat

Senin, 27 November 2017 lalu menjadi momen yang tak akan dilupakan warga pedalaman di Bumi Benuanta…

Menegangkan! Denjaka Rebut Obyek Vital dari Teroris dengan Serangan Dadakan
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .