UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

TARAKAN

Selasa, 11 Juli 2017 15:48
SMPN 10 Larang Siswanya Pakai Seragam Pemberian Baznas, Kenapa?

Calon Orangtua Murid Merasa Terbebani

DISOAL: Orangtua siswa baru di SMPN 10 Tarakan mempermasalahkan kewajiban membeli atribut di sekolah. Permintaan itu dianggap memberatkan. (HADI ARIS ISKANDAR/KALTARA POS)

PROKAL.CO, TARAKAN - Sejumlah orangtua peserta didik baru mengeluhkan kebijakan yang ada di SMPN 10 Tarakan. Lantaran para orangtua diwajibkan membeli semua atribut yang disediakan pihak sekolah. Bahkan sekolah tersebut melarang jika peserta didik memakai seragam bantuan dari Baznas Tarakan.

Hal ini diungkapkan oleh salah satu orangtua siswa, Slamet. Dirinya mengaku resah dengan kebijakan sekolah yang sangat memaksakan mereka untuk membayar seluruh biaya atribut sekolah tersebut. Selain harga biaya atribut itu terlalu tinggi, pihak sekolah juga tidak memberikan toleransi kepada orangtua siswa melakukan pembayaran dengan cara kredit.

"Atributnya itu mas seperti baju putih, baju pramuka, baju olahraga, dasi, topi dan banyak lah mas. Nah semunya itu harganya Rp 821 ribu," kata Slamet.

Dirinya mengaku informasi yang diberikan pihak sekolah juga terlalu mendadak. Slamet menceritakan, Sabtu (8/7) lalu, pihak sekolah membuka pendaftaran ulang bagi siswa yang diterima. Tidak ada pemberitahuan adanya pembayaran atribut dan sebagainya. Pihak sekolah hanya menginformasikan untuk membawa data diri peserta didik baru untuk melakukan daftar ulang.

"Jadi waktu kami dikumpulkan di dalam ruangan, di situ lah ada guru bilang atribut  ini wajib dibeli. Nah pas di situ saya tidak ada uang mas. Ada sih tapi tidak cukup untuk bayar itu semua. Saya minta cicil sama gurunya, mereka tidak mau," terang Slamet.

Senada dengan yang dikatakan Slamet. Azis, orangtua murid lainnya mengaku dirinya juga kesulitan dengan biaya atribut yang diwajibkan sekolah.

"Saya kesulitan betul mas. Biayanya mau sejuta tapi harus dilunasin hari itu juga. Mana lah saya bisa," kata Azis.

Bahkan dirinya mengaku ketika berkonsultasi dengan pihak sekolah untuk menginformasikan seragam putih dan pramukanya telah ada yang didapat dari bantuan paket sekolah Baznas Tarakan. Pihak sekolah langsung melarang Azis untuk memakai seragam pemberian Baznas itu digunakan di sekolah.

"Jadi saya tanya lah sama gurunya, jadi saya apakan lah seragam ini kalau tidak boleh dipakai sekolah. Gurunya menjawab suruh jual atau kasih ke anak tetangga yang sekolah di tempat lain. Katanya gitu mas," imbuh Asis.

Keduanya berharap agar pihak sekolah dapat memberikan toleransi kepada para peserta didik baru agar dapat melakukan pembayaran secara cicilan. Lantaran hingga saat ini, mereka masih kesulitan melunasi biaya atribut yang diminta oleh pihak sekolah.

Dikonfimasi, Kepala SMPN 10 Tarakan, Lamberi SPd menjelaskan bukan pihaknya lah yang mengurus masalah biaya atribut sekolah tersebut, namun Koperasi Amal Sejahtera.

"Jadi kita sama koperasi itu adalah mitra. Untuk yang mengurusi masalah atribut adalah Koperasi Amal Sejahtera," kata Lamberi SPd

Walau demikian, ia mengaku tetap melakukan pantauan kepada mitra kerjanya itu agar sesuai dengan prosedur yang ada. Bahkan pihaknya juga meminta agar pihak koperasi melayani para orang tua atau pun murid yang membutuhkan pelayanan terkait masalah atribut dan sebagainya.

"Kita sudah minta untuk pihak koperasi slow response kepada orangtua yang bertanya. Biasa ‘kan banyak tuh orangtua yang tanya ini itu. Bahkan saya juga minta agar harga atribut sekolah sesuai dengan standar pasar," imbuhnya.

Terkait pembayaran secara cicilan, Lamberi menjelaskan tidak mewajibkan para peserta didik baru untuk membeli semua atribut yang disediakan. Berapa pun dana milik orangtua, pihaknya memberikan tolerasi kepada orangtua siswa untuk menyesuaikan.

Ditanya terkait pihak sekolah melarang siswanya memakai seragam bantuan dari Baznas Tarakan, Lamberi membenarkan hal tersebut. Ia menjelaskan hanya melarang seragam pramuka pemberian Baznas saja yang dilarang. Untuk seragam putih dari Baznas Tarakan diperbolehkan pihaknya. Alasannya, lantaran baju seragam dari pihak Baznas tidak sesuai dengan prosedur kebijakan dalam sekolahnya. Dikatakan Lamberi, baju sergam pramuka bantuan dari Baznas Tarakan mempunyai kantong pada sakunya.

"Di sekolah seragam pramuka harus dimasukkan ke dalam rok atau celana. Kalau punya kantong di sakunya bagaimana bisa kasi masuk. Boleh saja jika orangtua masih ingin anaknya pakai seragam itu. Asalkan diubah supaya kantongnya dihilangkan," terang Lamberi.

Sementara dikonfirmasi kepada pengurus Koperasi Amal Sejahtera, Siti Rasana. Ia menjelaskan tidak pernah menolak secara langsung para orang tua yang tidak melakukan pembayaran saat itu. Dirinya mengaku telah memberikan toleransi kepada sejumlah orang tua siswa untuk melakukan pembayaran secara kredit atai cicil.

"Saya juga tidak mewajibkan orang tua supaya membeli semua atribut yang ada. Nih buktinya saya telah memberikan tolenrasi kepada para orang tua," kata Siti Rasana sambil memperlihatkan nota kredit para orangtua.

Ditanya terkait biaya atribut yang dianggap mahal, Siti menjelaskan pihaknya sebelumnya melakukan survei pasar. Agar atriibut yang dijual di koperasi sesuai dengan harga pasar. Ia mengaku atribut yang ia jual ini sudah sesuai dengan harga pasar.

"Ini sudah sesuai dengan harga secara umum. Untuk informasinya, tidak ada secara mendadak mas. Sebelum pengumuman kelulusan siswa yang diterima, kami telah menempelkan daftar harga atribut ini di mading dan papan penngumuman di sekolah," tutupnya. (*/hai)


BACA JUGA

Senin, 24 Juli 2017 12:14

Tiga Korban Tergeletak, Sopir Mobil Hilang

TARAKAN – Kecelakaan hebat terjadi di Jalan Mulawarman sekira pukul 23.45 Wita, Sabtu (23/7).…

Senin, 24 Juli 2017 12:11

Jalurnya Diambil, Guru Ngaji Ditabrak

TAK hanya di Jalan Mulawarman, kecelakaan lalu lintas (laka lantas) lainnya juga terjadi di Jalan Pangeran…

Senin, 24 Juli 2017 11:32

Dituntut 17 Tahun Penjara, Pengusaha Ini Nangis

TARAKAN – Usaha dagang baju milik Sari tampaknya tak bisa lagi dilanjutkan. Pasalnya, tuntutan…

Sabtu, 22 Juli 2017 12:04

KPU Waspadai ‘Penyusup’ di PPK dan PPS

TARAKAN – Proses pemilihan wali kota (Pilwali) Tarakan sudah semakin dekat. Sesuai tahapan, pemilihan…

Sabtu, 22 Juli 2017 12:03

Hari Ini Timsel Umumkan 6 Nama Panwaslih yang Lolos

TARAKAN – Pemilihan wali kota (Pilwali) Tarakan semakin dekat. Pihak penyelenggara pun terus mempersiapkan…

Sabtu, 22 Juli 2017 11:56

Senggolan di Jalan Mulawarman, 2 ABG Dilarikan ke Rumah Sakit

TARAKAN – Kecelakaan lalu lintas tak bisa dihindari 3 remaja bernama Steven, Tiny dan Noflin sekira…

Sabtu, 22 Juli 2017 11:53

Dibawa dari Kampung, Dijanjikan Kerja di Rumah Makan, Eh.. Malah Jadi PSK

TARAKAN – Terdakwa human trafficking, Ocha dan Suryadi hanya bisa diam seribu bahasa saat menjalani…

Sabtu, 22 Juli 2017 11:53

Penjambret Dibekuk, Satu Pelaku Pernah Membunuh

TARAKAN – Upaya aparat kepolisian mengungkap siapa pelaku penjambretan yang selama ini membuat…

Sabtu, 22 Juli 2017 11:51

Kecelakaan Maut di Pantai Amal Masih Didalami

TARAKAN – Hingga saat ini aparat kepolisian tampaknya masih belum bisa memastikan penyebab kasus…

Sabtu, 22 Juli 2017 11:48

Diparkir di Pinggir Jalan, Honda Beat Raib

TARAKAN - Waspadalah jika memarkir motor tepat di pinggir jalan, apalagi jalan tersebut sepi. Pasalnya,…

Diparkir di Pinggir Jalan, Honda Beat Raib

Ada Pungli Selama PPDB, Laporkan!

DPP Tunjuk Abu Ramsyah Pimpin PDIP Tarakan

NGERI! Darah Bercereran di Gunung Amal

Bantah Ilegal, Penambang Pasir Tunjukan Bukti

Lembaga Islam Tak Dilibatkan di STQ, MUI: Maklum Provinsi Baru

Senggolan di Jalan Mulawarman, 2 ABG Dilarikan ke Rumah Sakit

Balap Liar, JK dan Motornya Diangkut Polisi

STQ Dievaluasi, Perwakilan EO Tak Hadir

Ada Tes Psikologi di Penjaringan Gerindra
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .