UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

RAGAM

Sabtu, 02 Desember 2017 19:08
MAF Amat Dirindukan, Berjasa Buat Warga yang Sakit

Derita Warga Perbatasan saat ‘Pesawat Mereka’ Tak Beroperasi (1)

TIBA : Hendry dan istrinya tiba menggunakan pesawat milik MAF datang ke Tarakan untuk bersalin. (JUSMAN/KALTARA POS)

PROKAL.CO, Peliknya persoalan izin terbang Mission Aviation Fellowship (MAF) belakangan ini sedang ramai dibahas. Bahkan, ratusan warga yang berharap pesawat ini tetap beroperasi, turun ke jalan menuntut agar Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera menyelesaikan kasus ini. Nah, seberapa besar pentingnya MAF bagi warga Kalimantan Utara (Kaltara)? Berikut penelusurannya.

 

JUSMAN, Kaltara Pos

 

“ETA (Estimate Time Arrival), jam 11 ada ibu hamil sulit melahirkan. Air ketuban sudah pecah sejak jam 12 malam, pesawat menuju Desa Long Bawan sekarang.” Saya terdiam sejenak usai membaca pesan Office Manager MAF Tom Chrislay melalui akun Watshapp sekira pukul 09.23 Wita, 17 November lalu. Ini adalah pesan serupa yang kesekian kalinya dengan pasien berbeda yang dikirim Tom kepada saya. Kalau sudah ada tulisan ETA, berarti tak lama lagi pesawat mereka, MAF akan datang membawa pasien.

Bagi yang biasa bepergian dengan pesawat perintis, istilah ETA atau dalam bahasa Indonesia berarti perkiraan waktu kedatangan pesawat, pasti sudah tidak asing lagi dengan singkatan ini. Dalam pesannya itu, Tom bermaksud menyampaikan bahwa MAF sedang memberangkatkan timnya untuk menjemput pasien yang sedang dalam keadaan emergency di Desa Long Bawan dan meminta saya segera datang ke kantornya sekira pukul 11.00 Wita. Pada saat itulah, saya akan diperlihatkan proses evakuasi pasien dari pedalaman Kaltara yang sangat butuh pertolongan.

Jika pesan sebelumnya sering saya abaikan karena penugasan yang sangat padat di sejumlah tempat dan pesannya yang mendadak, kali ini saya memenuhi panggilan Tom. Pesannya membuat saya tersentuh karena berisi perjuangan seorang ibu. Dalam pikiran saya, nyawa ibu bersama bayinya tersebut sudah di ujung tanduk. Sedikit saja salah dalam penanganan, maka salah satunya bisa menjadi korban atau malah keduanya.

Sejurus kemudian, saya mengamini panggilan Tom dan mengatakan hadir sebelum pesawat mereka tiba. Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 Wita. Kafe yang saya tongkrongi sejak pagi segera saya tinggalkan agar cepat sampai ke Kantor MAF di Jalan Aki Balak, tepatnya di seberang Bandara Juwata Tarakan. Kuda besi matic keluaran 2009 milik saya langsung membelah Jalan Yos Sudarso yang macet. Kemudian mengaspal lurus ke utara Jalan Mulawarman, hingga akhirnya sampai ke Kantor MAF Tarakan.  

Sebenarnya, tak sulit menjangkau kantor maskapai MAF Tarakan. Melaju santai dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam, selama 7 menit kita sudah tiba di depan pos penjagaan maskapai itu. Kantor sekaligus apron milik MAF, tepat berada di sisi utara landasan pacu Bandara Juwata Tarakan. Kantor ini terpisah dengan Bandara Udara Juwata Tarakan. Letaknya diapit oleh markas TNI AU dan Bandara Juwata.

Pintu masuknya ada di ujung landasan, tepatnya sebelah kanan landasan pacu. Dari pintu masuk ini, saya harus melalui jalan setapak sekira 100 meter dari badan Jalan Aki Balak. Jalan ini masih berupa jalan agregat dengan lebar sekira 3-4 meter dan tidak rata. Sehingga saya harus menurunkan kelajuan motor hingga 10-20 km/jam. Hal ini harus dilakukan agar hentakan kendaraan tidak terlalu terasa.

Dari pos sekuriti tampak jelas sudah ada tiga mobil yang terparkir di halaman Kantor MAF. Dua mobil sedan berwarna putih-merah, satu mobil lainnya agak lebih tinggi dan terdapat sirine di atasnya, parkir paling ujung, tepat di sebelah kantor ini. Tepat, itulah mobil ambulans yang siap mengantar pasien ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan.

Di sudut lain, tepat di kaki lima bangunan satu lantai ini terdapat dua baris kursi panjang sekira 4 meter. Kursi ini menghadap ke arah utara atau berhadapan langsung dengan pintu masuk kantor. Tepat di sisi timur, ada satu baris kursi lagi, panjangnya sekira 3 meter. Kursi ini disusun menghadap ke barat atau persis menghadap ke apron pesawat. Sementara di depan kursi sebelah timur, di depannya ada meja pelayanan yang tidak dijaga oleh petugas. Maklum, MAF memang sedang tidak mendapat izin untuk beroperasi, kecuali untuk pasien emergency sehingga meja pelayanan ini tak ada orang saya lihat.

Nah, di kursi yang menghadap ke apron pesawat itu, sudah diduduki seorang wanita paruh baya berbaju pendek warna merah, berlengan warna abu-abu. Dia terlihat seperti harap-harap cepas menunggu seseorang. Tak sendiri, di sebelah kanannya ada seorang pria paruh baya berbaju merah marun dan warga lain berbaju hitam sedang berbaring bersama seorang anak. Di apron pesawat yang tertutup itu juga terlihat beberapa orang mekanik lalu lalang. Mereka terlihat sedang mengutak-atik mesin pesawat.

Meski pandanganku mengitari seluruh Kantor MAF, namun mataku hanya ingin fokus pada ibu dan pria di sampingnya. Wajah cemas amat terlihat dari mereka. Nada suaranya juga seperti orang sedang khawatir dan kurang bersemangat. Sepertinya, mereka adalah keluarga pasien yang disampaikan Tom. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendekat.

“Ibu, apa benar dari keluarga ibu yang akan melahirkan,” tanya saya saat memulai perkenalan. “Iya benar,” singkat ibu yang belakangan saya tahu namanya, Jariah.

Namun sayang, Jariah tak tahu banyak soal kondisi keluarganya tersebut. Jariah menyebut, dia memang mengenal pasien yang diterbangkan dari Long Bawan itu, namun tak mengetahui pasti kenapa keluarganya itu harus diterbangkan ke Tarakan.

Kata Jariah, mereka memang sama-sama tinggal di Krayan, namun berbeda desa. Jika Jariah tinggal di pusat Kecamatan Krayan, sementara keluarganya itu tinggal di Desa Pakabuan yang terletak di barat Kecamatan Krayan. Untuk ke Long Bawan, keluarga pasien harus menempuh jalan yang amat jauh sebelum diterbangkan menggunakan pesawat MAF ke Tarakan.

“Kami sangat berharap MAF jangan sampai tak beroperasi. Yang begini (orang sakit) sangat perlu. Semua orang pasti rindu (MAF),” katanya.

Tak lama kemudian, mobil ambulans bertuliskan ‘RSUD Tarakan’ datang. Mobil itu diparkir mundur sehingga menutupi jalan keluar dari tempat menunggu Kantor MAF yang terhubung dengan apron. Sadar pasien dalam kondisi emergency, sopir membuka pintu belakang ambulans agar pasien dapat langsung dievakuasi. 

Sembari menunggu, pembahasan saya dengan Jariah pun beralih ke izin operasi MAF yang sudah dibekukan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub. Maklum, MAF adalah maskapai satu-satunya harapan masyarakat pedalaman yang akses transportasinya sangat sulit. Daerah pedalaman ini hanya dapat dijangkau melalui udara, yakni pesawat-pesawat milik maskapai MAF. Sehingga, ketika MAF tidak beroperasi lagi, masyarakat di pedalaman akan semakin terisolir.

Meski demikian, Jariah tak tahu banyak soal izin MAF. Dari berbagai informasi yang saya dapatkan, selama ini MAF beroperasi dengan landasan yayasan sosial. Sesuai akta pendirian Yayasan MAF Indonesia, izin itu tertuang dalam akta nomor 1 tanggal 4 Februari 2009. Maskapai ini milik misionari asing dengan izin kegiatan angkutan udara bukan niaga nomor : SKEP/310/XII/1999 tanggal 2 Desember 1999 dan pemegang Operating Certificate (OC) -91 nomor OC 91- 004.

Karena pendiriannya sesuai akta yayasan, maka sasarannya adalah daerah-daerah terpencil yang belum dijangkau oleh sarana transportasi lainnya. Yang bikin warga terlanjur jatuh hati pada pelayanan pesawat ini adalah jasa angkutnya yang gratis alias tidak dipungut biaya. Lalu, dari mana sumber anggaran operasional MAF? Informasi yang ramai tersebar, anggaran operasional MAF berasal dari sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat, hibah atau hibah wasiat, dan perolehan lain yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar yayasan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hingga tahun ini, pesawat yang dioperasikan MAF sebanyak 18 unit di seluruh Indonesia. Terdiri dari type Cessna 208B (4 unit), Cessna 208 (1 unit), Kodiak 100 (7 unit), Cessna 208 Amphibi (1 unit), Cessna A185 Floatplane (2 unit) dan Cessna TU206 (3 unit). Pesawat-pesawat tersebut dioperasikan 32 pilot dan ditunjang para personel teknis dan manajemen.

Seiring perjalanannya, maskapai yang telah beroperasi sejak tahun 1972 ini, ternyata donasi atau sumbangan yang diterima MAF tidak sesuai dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk tetap beroperasi. Untuk menutupi beban biaya yang dibutuhkan, MAF akhirnya dibenarkan menarik biaya retribusi kepada penumpang umum dan pengiriman barang. Hal itu sudah dilakukan puluhan tahun lalu dan MAF sudah melakukan pelaporan disertai bukti yang menerangkan bahwa MAF tidak mendapat keuntungan. Hingga akhirnya terbit Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan Kegiatan Angkutan Udara Bukan Niaga.

Namun, Menteri Perhubungan memberikan izin kegiatan angkutan udara bukan niaga untuk melayani penumpang umum dan pengiriman barang dengan memungut retrubusi pada daerah tertentu, dengan memenuhi persyaratan tertentu dan bersifat sementara.

Bersifat sementara adalah persetujuan yang diberikan terbatas untuk jangka waktu tertentu, paling lama enam bulan dan hanya dapat diperpanjang untuk satu kali pada rute yang sama untuk satu tahun. Izin ini pun sudah diajukan oleh MAF untuk mengangkut penumpang umum dan barang dengan memungut biaya. Sayangnya, izin ini hanya berlaku selama enam bulan, yakni sejak 8 Mei 2017 hingga 8 November 2017 lalu. Sebelumnya, MAF juga sudah memperoleh izin berdasar surat Kemenhub Nomor  59 Tahun 2016 dengan jangka waktu satu tahun, yakni dari 28 Januari 2016 hingga 28 Januari 2017.

Dengan ketentuan tersebut, akhirnya Izin MAF tidak dapat diperpanjang lagi karena sudah dua kali diajukan. “Sampai saat ini kami belum memutuskan apa-apa terkait pernyataan Menhub. Kami didesak untuk mengubah izin jadi niaga agar sesuai regulasi yang ada. Tapi itu sulit, karena keluar dari visi dan misi kami,” kata Tom Chrislay SE saat saya temui sebelumnya.

Tom mengaku, pihaknya merasa lucu jika MAF tiba-tiba menjadi maskapai niaga namun tetap meminta sumbangan pada sponsor. “Nanti ditanya, kita ini PT kok minta sumbangan? Nanti kalau pasang tarif niaga jadi mahal dong, visi misi kami tidak jelas, jadi bisnis nantinya,” cemas pria yang akrab disapa Tom itu.

Tom berharap, MAF tetap mendapat izin mengakut penumpang umum dan barang dengan memungut retribusi, tetapi tidak mendapat keuntungan. Sebab tidak menutupkemungkinan MAF akan berhenti beroperasi bila saja dana operasional sudah habis. Di sisi lain, masyarakat di daerah terpencil juga terlanjur berharap MAF tetap beroperasi. Bahkan, MAF juga merasa terpanggil untuk hadir di tengah kesulitan warga perbatasan. Sepanjang Januari hingga 20 November 2017 ini, MAF sudah melayani 244 warga yang sakit dari daerah terpencil ke Tarakan, (jumlah pasien sakit dapat disimak di grafis tulisan ini).

Saat ini, ada 5 pesawat milik MAF Tarakan yang tugasnya mengangkut penumpang dan barang ke daerah perbatasan seperti Desa Data Dian, Long Angalo, Long Nawang, Long Apung, Long Layu, Long Pujungan, Desa Mahak Baru, Long Bawan dan Malinau Kota. Untuk biaya operasional MAF, satu kali  terbang dari Tarakan ke Krayan memakan biaya Rp 13,9 juta dengan pesawat jenis Kodiak 100 untuk 9 penumpang. Sedangkan untuk pesawat berbahan bakar jenis Avgas lebih kecil dengan kapasitas 5 penumpang, memiliki biaya operasional Rp 7,9 juta.

Tak terasa kami sudah mengobrol sekira 8 menit dan duduk di tempat menunggu itu, akhirnya mendaratlah pesawat Cessna 206 di Bandara Internasional Juwata Tarakan. Pesawat ini adalah salah satu pesawat multi fungsi berbahan bakar avgas. Pesawat ini juga mampu melakukan pendaratan dan penerbangan di landasan yang hanya memiliki panjang 430 meter, seperti yang ada di Long Alango.

Kami yang duduk menghadap ke barat melihat jelas pesawat yang tiba. Melihat pemandangan itu, Jariah dan suaminya berdiri bersama. Dari landasan pacu, pesawat bermesin tunggal itu belok kiri melalui jalan setapak yang tidak beraspal menuju apron khusus maskapai MAF.

“Ada tandunya kah,” ucap pria berbaju biru dengan suara agak keras. Pria itu adalah sopir yang mengendalikan laju ambulans. Mengetahui pasien tidak memiliki tandu, dia segera membawah tandu turun dari ambulans. Ketika pintu pesawat dibuka, suara ibu meringis kesakitan langsung terdengar. Suara itu makin keras terdengar usai mesin pesawat dimatikan.

Pasien yang harus sering mengatur napas itu terlihat dibaringkan searah dengan pesawat yang panjang bodinya hanya sekira 6 meter. Ruang yang bisa digunakan dari pesawat itu hanya sekira 3 meter dengan lebar sekira 1 meter.

Pasien berbaju warna pink, mengenakan sarung batik berwarna coklat itu langsung diturunkan oleh 7 pria dengan sangat hati-hati. Suaminya yang terus mendampinginya berada di sisi kiri terlihat pucat dan harap-harap cemas.

Keningnya mengerut seakan-akan ingin menangis. Ditambah lagi, matanya yang sudah memerah setelah tak tidur sejak sehari sebelumnya membuatnya terlihat lemas. Saya pun melihat jam, ternyata sudah pukul 11.08 Wita. Pria berambut pendek dengan pakaian berwarna abu-abu itu mengenakan celana pendek berwana cokelat dan sandal jepit, terus menemani istrinya walaupun sebenarnya dia tidak datang sendiri dari Long Bawan. Tak jauh darinya, ada seorang perawat, namun matanya tak lepas dari sang istri yang menahan sakit. (bersambung)

 


BACA JUGA

Kamis, 07 Desember 2017 09:47

Gantikan Rustan, Armin Arifuddin Jabat Ketua PNK yang Baru

TARAKAN – Setelah melalui proses yang panjang Armin Arifuddin resmi pimpin PNK Tarakan. …

Rabu, 06 Desember 2017 23:22

Warga Pedalaman Protes, MAF Terbang Bersyarat

Senin, 27 November 2017 lalu menjadi momen yang tak akan dilupakan warga pedalaman di Bumi Benuanta…

Senin, 23 Oktober 2017 14:54

Listrik Padam, Rumah Imam Masjid Hangus Terbakar

SESAYAP – Saat tengah istirahat, warga dikejutkan dengan api yang mengamuk dan menghanguskan rumah…

Sabtu, 21 Oktober 2017 11:32

Misteri, Kasasi Jamaluddin Tak Terdaftar di MA

JAKARTA – Perkembangan kasus dugaan korupsi pengadaan perlengkapan acara Pekan Olahraga Provinsi…

Kamis, 14 September 2017 23:03

Peringati Hari Perhubungan, Jalin Silaturahmi Melalui Olahraga

TARAKAN – Beberapa cabang olahraga digelar di Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas).…

Senin, 11 September 2017 10:49

Berikan Tips and Trik TOEFL Untuk Masyarakat

TARAKAN –  Saat ini, pengetahuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam dunia pekerjaan.…

Selasa, 29 Agustus 2017 20:05

One Heart, Royal Tarakan Hotel Gelar Syukuran Ulang Tahun

TARAKAN - Bertemakan 'One Heart' Royal Tarakan Hotel (RTH) merayakan malam syukuran untuk ulang tahun…

Senin, 21 Agustus 2017 12:03

Norhayati Andris Ikut Serta Dalam Perlombaan HUT RI

TARAKAN - Berbagai permainan rakyat mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI)…

Jumat, 21 Juli 2017 16:00

Cegah Kanker Serviks, BPJS Kesehatan dan Lanud Galakkan Penyuluhan

TARAKAN – Masih dalam rangkaian HUT-nya yang ke-49, BPJS Kesehatan  Kesehatan dan LANUD Tarakan…

Jumat, 21 Juli 2017 15:46

Giliran Banten dan Kalteng Kunjungi Baznas Tarakan

Sama dengan yang lainnya, Pengurus Baznas Provinsi Banten dan Kalimantan Tengah (Kalteng) juga tak mau…

Gantikan Rustan, Armin Arifuddin Jabat Ketua PNK yang Baru
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .