UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

RAGAM

Minggu, 03 Desember 2017 16:40
Tak Ada Akses Darat, Pelayanan MAF Dinilai Cepat

Derita Warga Perbatasan saat ‘Pesawat Mereka’ Tak Beroperasi (2)

DIRAWAT : Bayi Henry yang lahir beberapa hari lalu dirawat secara intensif. Hery Berharap maskapai AF atau sejenisnya lainnya bisa melayani mereka di pedalaman. (DOK PRIBADI)

PROKAL.CO, Polemik izin terbang Mission Aviation Fellowship (MAF) cukup disayangkan banyak pihak. Khusus bagi warga yang bermukim jauh di pelosok perbatasan, pesawat perintis ini amat dinantikan kehadirannya. Salah satu warga yang mendapat pelayanan dari MAF adalah pasangan suami-istri, Henry dan Marlena. Berikut pengakuan keduanya kepada Kaltara Pos.

 

JUSMAN, Kaltara Pos

 

 

SUARA khas pesawat perintis yang mendarat di Bandara Internasional Juwata Tarakan terdengar mendekat. Suara itu tak lain berasal dari pesawat MAF. Bagi warga Kalimantan Utara (Kaltara) yang akan terbang ke pedalaman, misalnya ke Kecamatan Krayan, pasti sudah hafal dengan suara pesawat ini.

Jika akan lepas landas dari Bandara Internasional Juwata Tarakan, berarti pesawat tersebut sedang mengangkut penumpang atau barang. Namun, jangan heran jika pesawat ini mendarat. Pasalnya, tidak hanya penumpang umum yang sehat raganya yang diangkut, tapi juga warga yang sedang sakit keras.

Nah, kali ini pesawat MAF mendarat membawa penumpang yang sedang butuh perawatan ekstra. Usai parkir di apron, sang pilot bergegas turun dan membuka pintu pesawat. Pilot bule yang bertubuh jangkung itu terlihat buru-buru seperti ingin segera menyelamatkan penumpangnya. Setelah pintu terbuka, tim medis yang sudah siap sedia mendekat lalu mengevakuasi pasien menuju ambulans.

Namun, belum sampai di ambulans, mata saya terfokus pada seorang pria yang ternyata adalah Henry (41). Pria berkumis tipis dan berjanggut itu terlihat panik. Mimik wajahnya diliputi rasa cemas yang luar biasa. Dia dengan cekatan ikut mengangkat tandu bersama 6 orang lainnya. Ingin rasanya saya pecahkan rasa penasaran saya pada Henry, namun hal itu saya tunda lantaran pria berkulit putih itu terlihat seperti tak mau lepas dari perempuan yang ada di atas tandu tersebut. Ternyata, perempuan itu adalah istrinya yang dikabarkan akan melahirkan.

Saya lihat jam, sudah menunjukkan pukul 11.40 Wita. Ambulans segera membawa perempuan bernama Marlena (38) itu ke RSUD Tarakan. Empat orang keluarganya juga terpantau ikut ke rumah sakit. Mereka juga terlihat harap-harap cemas. Marlena yang terus merintih kesakitan langsung dimasukkan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) saat tiba di rumah sakit.

Sembari menunggu dokter bertindak, Henry masih belum saya dekati karena Henry sibuk mengurus dokumen perawatan istrinya agar diberi izin rawat inap.

Sembari menunggu Henry bekerja dan Marlena dirawat, keluarga suami-istri ini terpantau duduk di ruang tunggu sambil ngobrol. Bahasa mereka terdengar akrab di telinga, bahasa Dayak Lundayeh.

Hingga pukul 15.00 Wita, dokter belum juga melakukan tindakan penting. Mungkin dokter punya pertimbangan lain soal rencana operasi cesar pada Marlena. Kekhawatiran keluarganya makin bertambah karena berharap bayi Marlena selamat. Tak kuasa menunggu, kerabat Henry-Marlena, yakni Mama Yuni memutuskan mencari dokter agar segera melakukan tindakan.

Satu jam menunggu, Marlena akhirnya dimasukkan ke dalam ruang operasi untuk mendapatkan tindakan medis.

Masa menegangkan pun datang. Keluarga Henry-Marlena nyaris tak bersuara. Mereka diam menanti kabar. Ada yang terlihat komat-kamit merapalkan doa dengan suara berbisik, ada juga yang menatap kosong ke lorong pintu masuk ruang operasi. Sementara Henry, wajahnya terlihat lelah dan pucat. Matanya yang sudah berkantung hanya bisa tertunduk lesu.

“Kita tunggu saja dulu pak,” katanya kepada saya saat saya mendekat untuk mencari tahu apa yang dia sedang pikirkan. Saya pun menunggu.

Namun, dia sempat mengatakan perihal doanya saat sang istri hamil. “Saya berharap laki-laki,” katanya singkat soal doanya itu.

Jika benar-benar lahir, anaknya itu adalah anak kelima dalam keluarga kecilnya lantaran  4 anaknya yang lebih dulu lahir semuanya putri. “Tapi kalau sudah begini, itu (anak laki-laki) tak penting lagi mas. Yang penting selamat,” katanya, kemudian dia diam dengan wajah tegang.

Saat jam menunjukkan pukul 16.20 Wita, seperti dalam alur cerita sinetron, seorang wanita berpakaian khas juru operasi keluar. “Suami ibu Marlena,” panggil pria berseragam putih itu. Sontak, semua kepala menoleh ke pintu ruang IGD.

Tanpa aba-aba, Henry mendekat dengan sedikit berlari. Beberapa menit kemudian, Henry berjalan pelan dan wajah yang lesu. Meski saya tidak mengetahui secara pasti apa yang mereka bahas dengan bahasa Dayak Lundayeh,  namun saya masih dapat memahami jika Henry menginformasikan bahwa dan istrinya selamat dan anaknya yang sudah lahir masih dirawat. Kabar itu langsung mencairkan suasana.

“Dokter bilang (anaknya) lahir dengan normal. Berat badannya 3,1 Kg,” katanya. “Perempuan,” lanjutnya saat saya tanya soal jenis kelamin sang anak.

Henry kemudian menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan semangat. Dia terlihat lega. Dia seperti sedang ingin menyampaikan rasa terima kasih pada pilot yang membawanya terbang ke Tarakan.

Maklum, di pelosok tempatnya tinggal fasilitas kesehatan kurang memadai. Kasus ini banyak dialami warga sehingga harus dirujuk ke rumah sakit yang fasilitasnya memadai. Bagaimana caranya ke rumah sakit yang dipenuhi fasilitas mumpuni itu? Ya, tentu menggunakan pesawat. Tanpa pesawat, warga tak bisa kemana-mana. Mereka terisolir karena tak ada akses jalan darat. Satu-satunya solusi adalah menggunakan pesawat. Sekali lagi, pesawat.

“Saya sudah siapkan nama kalau laki-laki, tapi biarlah hanya kami berdua yang tahu,” kata Henry mengaku tidak kecewa karena anak kelimanya itu ternyata perempuan.

Namun, sesuatu yang tak diinginkan Henry terjadi. Saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.30 Wita, Henry yang baru saja kembali duduk di kursi sambil memejamkan mata, pengeras suara mengejutkan saya. “Keluarga ibu Marlena,” ucap salah seorang petugas. Henry masih setengah sadar.

Tak lama, di depan pintu IGD, seorang perawat keluar sedikit buru-buru memanggil keluarga Marlena. Henry pun terbangun. Dia segera beranjak lalu masuk ke dalam ruang operasi karena kondisi istri dan anaknya dikabarkan kritis. Informasi dari dokter, penyebab kedua pasien kritis lantaran lambatnya penanganan medis akibat jarak yang mereka tempuh dari desa ke pusat kota di Kecamatan Krayan. Dokter itu benar. Sebelum diterbangkan menggunakan peswat MAF ke Tarakan melalui Desa Long Bawan, Henry harus membawa istrinya menapaki jalan yang cukup jauh.

Kondisi inilah yang memaksa dokter harus melakukan perawatan intensif terhadap keduanya dan dirawat di ruangan yang terpisah. “Denyut jantungnya (bayi) 70 kali per menit,” kata Henry kepada saya.

Tentu saja hal itu bukan kabar baik bagi Henry dan keluarganya. Sebab denyut jantung normal seorang bayi adalah 100-160 per menit. Bahkan untuk bernapas, sang bayi harus dibantu alat pernapasan yang diberikan oleh tim dokter. “Kita sedang berusaha pak, bapak berdoa saja,” kata Henry menirukan ucapan dokter kala itu.

Dia kemudian kembali keluar dan duduk termenung. Sesekali dia terlihat menyandarkan punggungnya di sandaran kursi besi. Saya kemudian memutuskan duduk di sampingnya lalu mengajaknya mengobrol. Maklum Hendry belum mengenal saya dengan baik. Henry menjelaskan, sekira pukul 11.00 Wita, Kamis 16 November lalu, istrinya sudah merasakan sakit. Sadar istrinya akan melahirkan, dia kemudian memanggil mantri (juru rawat) di desanya. Sekira pukul 12.00 Wita hingga pukul 13.00 Wita, air ketuban Marlena pecah. Mantri itu berupaya membantu proses persalinan dengan segalah upayanya. Hingga pukul 17.00 Wita, kata Henry, dia memutuskan membawa istrinya ke puskesmas untuk mendapat pertolongan lanjutan. Mobil yang biasa beroperasi di desanya adalah Hilux, sebab jalan di sana adalah tanah yang diratakan, namun karena sudah lama, jalan itu menjadi bergelombang. Agar cepat sampai di Puskesmas Long Bawan, mobil ini adalah pilihan satu-satunya. Beralaskan karpet plastik, Marlena dibaringkan di bak mobil Hilux ini. Bantalnya adalah paha Henry dan kain serta baju yang diberikan oleh warga dan keluarganya. Karena sudah dalam keadaan kepepet, dia pun tampil apa adanya. Sepanjang jalan tak rata itu, Henry terus mendekap kepala istrinya yang dibaringkan di pangkuannya sembari berusaha menyeimbangkan istrinya, sebab kondisi jalan membuatnya terguncang. Sekira satu jam perjalanan, sampailah mereka di puskesmas untuk mendapatkan perawatan.

Dikatakan Henry, petugas kesehatan di sana juga sudah berupaya menolong istrinya. Sepanjang malam dia duduk menanti kabar, namun tangisan sang bayi belum juga terdengar. Sempat merasa kecewa karena mantri di puskesmas itu tidak berkoordinasi dengannya. Sementara dia sudah menunggu lama, tidak bisa tidur dan tidak dapat makan. “Itu saja saya sesalkan, mereka (petugas kesehatan) tidak berkoordinasi. Apa pasal? Kalau mereka cerita, kan mungkin kita tidak terlalu khawatir. Ini kita menunggu tiada kepastian,” urainya.

Tanggal berganti, hari berganti, jarum jam pun sudah menunjukkan pukul 05.00 Wita subuh, Henry memutuskan membawa istrinya ke Tarakan. Dia berkoordinasi dengan keluarganya agar istrinya diupayakan segera di rawat di Tarakan. Siangnya, barulah keluarga Henry melapor pada pengelola MAF yang ada di Long Bawan dan menjelaskan kondisi darurat istrinya. Pihak MAF pun dengan sigap melayani permintaan Henry. Mereka pun siap-siap berangkat.

“Tidak susah. Malah membantu. Cepat juga pelayanannya,” kata Henry. “Mungkin itu dulu yang dapat saya sampaikan pak, soalnya saya lelah pak,” ucapnya dengan suara yang melemah kepada saya.

Sadar Henry sangat lelah saya mengiyakan untuk menyudahi obrolan kami. Saya mempersilakan Henry kembali bersandar dan memejamkan mata, meski saya pastikan kondisi ini tak akan membuatnya tidur nyenyak. Tak lama, tepatnya sekira pukul 18.00 Wita, keluarlah seorang perawat mendorong sebuah keranjang bayi dan memanggil Henry. Itu adalah bayi Henry yang siap dipindahkan ke ruangan lain. Wajah Henry terlihat seperti baru saja mendapat obat penting. Dia gemas melihat bayinya yang sudah dipindahkan. Dengan bahagia, dia kemudian memperlihatkan foto bayinya yang baru saja diantarnya ke ruangan khusus. “Comelnya,” ucap seorang keluarganya dilanjutkan dengan obrolan ringan yang renyah.

Tepatnya pukul 18.20 Wita, perawat keluar lagi dari ruang IGD sembari mendorong tempat rawat pasien. Di atas ranjang itu Marlena terbaring usai menjalani operasi. Dengan segera kami mengikutinya dari belakang. Marlena dibawa ke lantai dua menggunakan lift, sementara saya dan Henry serta 4 orang anggota keluarga Henry naik ke lantai dua melalui tangga. Setelah menyaksikan Marlena di bawah ke ruangan Mawar kamar 203 saya pun tak ingin berlama-lama mengganggu mereka. Akhirnya saya pamit untuk pulang dan berjanji akan kembali lagi menjenguknya. (bersambung)


BACA JUGA

Kamis, 07 Desember 2017 09:47

Gantikan Rustan, Armin Arifuddin Jabat Ketua PNK yang Baru

TARAKAN – Setelah melalui proses yang panjang Armin Arifuddin resmi pimpin PNK Tarakan. …

Rabu, 06 Desember 2017 23:22

Warga Pedalaman Protes, MAF Terbang Bersyarat

Senin, 27 November 2017 lalu menjadi momen yang tak akan dilupakan warga pedalaman di Bumi Benuanta…

Senin, 23 Oktober 2017 14:54

Listrik Padam, Rumah Imam Masjid Hangus Terbakar

SESAYAP – Saat tengah istirahat, warga dikejutkan dengan api yang mengamuk dan menghanguskan rumah…

Sabtu, 21 Oktober 2017 11:32

Misteri, Kasasi Jamaluddin Tak Terdaftar di MA

JAKARTA – Perkembangan kasus dugaan korupsi pengadaan perlengkapan acara Pekan Olahraga Provinsi…

Kamis, 14 September 2017 23:03

Peringati Hari Perhubungan, Jalin Silaturahmi Melalui Olahraga

TARAKAN – Beberapa cabang olahraga digelar di Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas).…

Senin, 11 September 2017 10:49

Berikan Tips and Trik TOEFL Untuk Masyarakat

TARAKAN –  Saat ini, pengetahuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam dunia pekerjaan.…

Selasa, 29 Agustus 2017 20:05

One Heart, Royal Tarakan Hotel Gelar Syukuran Ulang Tahun

TARAKAN - Bertemakan 'One Heart' Royal Tarakan Hotel (RTH) merayakan malam syukuran untuk ulang tahun…

Senin, 21 Agustus 2017 12:03

Norhayati Andris Ikut Serta Dalam Perlombaan HUT RI

TARAKAN - Berbagai permainan rakyat mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI)…

Jumat, 21 Juli 2017 16:00

Cegah Kanker Serviks, BPJS Kesehatan dan Lanud Galakkan Penyuluhan

TARAKAN – Masih dalam rangkaian HUT-nya yang ke-49, BPJS Kesehatan  Kesehatan dan LANUD Tarakan…

Jumat, 21 Juli 2017 15:46

Giliran Banten dan Kalteng Kunjungi Baznas Tarakan

Sama dengan yang lainnya, Pengurus Baznas Provinsi Banten dan Kalimantan Tengah (Kalteng) juga tak mau…

Gantikan Rustan, Armin Arifuddin Jabat Ketua PNK yang Baru
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .