UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

RAGAM

Senin, 04 Desember 2017 23:55
Lambat Tertolong, Bayi Henry-Marlena Meninggal

Derita Warga Perbatasan saat ‘Pesawat Mereka’ Tak Beroperasi (3)

MENINGGAL : Inilah makam Novita Henry yang meninggal usai dirawat di RSUD Tarakan. Makam ini terletak di Kampung Satu. (JUSMAN/KALTARA POS)

PROKAL.CO, Bukan rahasia lagi jika warga yang tinggal perbatasan Indonesia-Malaysia, khususnya di Kalimantan Utara (Kaltara) sangat jauh dari kehidupan yang layak. Sarana pendidikan yang hanya apa adanya, fasilitas kesehatan yang sulit dijangkau, akses transportasi yang mengandalkan pesawat, bahkan ada yang punya akses darat tapi rusak berat. Seperti itu pula yang dirasakan warga Krayan bernama Henry dan istrinya Marlena.

 

JUSMAN, Kaltara Pos

 

SAAT itu, 16 November 2017. Hari yang tak dapat dilupakan oleh pasangan suami-istri (pasutri) Henry dan Marlena. Di hari itulah, mereka melalui perjalanan panjang dari Desa Pakabuan, Krayan Barat, Kabupaten Nunukan menuju Long Bawan yang merupakan ibu kota Kecamatan Krayan.

Menuju Long Bawan, bukan untuk berbelanja atau sekadar menikmati panorama desa yang indahnya terkenal hingga ke seluruh tanah air, melainkan ingin ke Puskesmas Long Bawan untuk melanjutkan saran mantri di desanya.

Marlena masih terdengar meringis kesakitan saat jalan setengah agregat mengempaskan punggungnya ke mobil dobel kabin yang membawanya. Kepalanya yang beralas paha sang suami terasa keram. Dia berusaha memiringkan badan, tapi hal itu tak bisa dilakukannya karena perutnya yang besar siap melahirkan. Air ketubannya sudah pecah.

Namun sayang, saat tiba di Puskesmas Long Bawan, Marlena tak bisa ditangani. Alasannya masih klasik, yakni peralatan tidak memadai, sementara pasien membutuhkan penanganan yang maksimal. Sehari kemudian, yakni pada Kamis, 17 November 2017, Henry memutuskan membawa Marlena ke RSUD Tarakan. Karena tak ada akses darat menuju Tarakan, satu-satunya jalan adalah menggunakan jasa Mission Aviation Fellowship (MAF).

Perjalanan melalui udara pun dimulai. Meski istrinya akan mendapat pelayanan maksimal, Henry masih terlihat cemas. Sekira pukul 11.30 Wita, dia masih di udara dan sebentar lagi akan mendarat. Itu artinya, perjalanan baru akan segera mereka lakukan, yakni operasi cesar di RSUD Tarakan untuk menyelamatkan sang bayi.

Setelah menjalani perjalanan jauh selama 24 jam dengan kesakitan yang amat luar biasa, Marlena akhirnya melahirkan anak kelimanya sekira pukul 16.20 Wita usai dioperasi. Anak kelimanya itu lahir dengan berat 3,1 kg dengan panjang 2,5 sentimeter berjenis kelamin perempuan. Asa mendapatkan anak pria pasutri ini pun pupus. Semua anaknya perempuan.

Namun sayang, usia bayi comel bernama Novita Henry itu tak lama. Henry sempat menyaksikan putrinya usai lahir. Ucapan syukur pun dipanjatkannya. Bahkan, saat malam merayap membawa Henry santai di ruang rawat 203, dia sempat mengajak istrinya bercanda. Senyum dan tawa mereka pun merekah hingga akhirnya kabar duka datang dari seorang perawat yang meminta Henry datang ke ruangan tempat anaknya dirawat. 

“Maaf pak, kami sudah berusaha,” ungkap Henry menirukan ucapan dokter sekira pukul 00.02 Wita malam itu.

Saya yang belum tahu bayi Novita telah tiada datang menjengukHenry dan Marlena dua hari kemudian, tepatnya pada Minggu 19 November sekira pukul 19.00 Wita. Tanpa perintah, saya langsung menuju ruang tempat Marlena dirawat. Terpantau sunyi, cuma ada Marlena di sana terbaring lemah. Maklum, sebelumnya tiga pasien lain saya pantau juga dirawat di ruang rawat inap ini.

“Bagaimana kabarnya ibu, pak? Apa sudah baik,” sapa saya ketika baru datang dan disambut dengan ungkapan baik oleh Henry sembari tersenyum.

Disini saya baru menyadari ternyata sosok Henry adalah ramah dan murah senyum. Saya duduk di ranjang sebelah persis berada di sebelah kanan Marlena yang tengah terbaring. Sementara Henry duduk di sisi kiri istrinya menghadap ke saya sehingga istrinya sewaktu-waktu dapat melihat saya maupun suaminya. Marlena terlihat masih lemas dan belum bisa banyak bergerak.

“Masih sakit di bagian perut, bekas jahitannya tu,” Kata Henry diamini istrinya dengan suara pelan.

Berbagai hal pun kami bahas untuk mengisi kunjungan saya kala itu. Henry bahkan sempat mengajak saya untuk datang melihat kampung halamannya yang masyarakatnya hanya bertani dan membuat garam yang bersumber dari gunung. Tidak peduli apakah dia Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau hanya karyawan biasa, mereka tetap bertani. “Bertani sudah semacam budaya kami, susah sudah lepas,” ungkapnya.

Kepala saya yang masih dipenuhi rasa penasaran kemudian menyasar seluruh sudut ruangan. Tampaknya ada yang kurang. Setelah fokus pada keranjang bayi yang kosong, saya pun segera bertanya mengapa keranjang bayi yang berjarak sekira 3 meter dari ranjang tempat Marlena dirawat.

“Bayinya mana pak?” tanya saya polos. “Sudah meninggal,” jawab Henry singkat dan agak sedikit cepat.

Dia kemudian bercerita, keranjang bayi itu adalah milik pasien lain yang ada di depannya dan mereka sudah pulang. Suasana yang semula cair oleh perbincangan kami langsung berubah menjadi kaku. Henry menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Dengan mata merah dan berair, Henry  mengatakan, kerabatnya yang ada di Tarakan telah memakamkan anaknya. Bayi comel itu dimakamkan pada Sabtu 18 November di salah satu pemakaman di Jalan Pulau Kalimantan, Kelurahan Kampung Satu. Setelah mereka mengetahui bayinya telah tiada, saat itu Marlena dan Henry tidak saling berbicara. Henry bingung harus berbuat apa saat itu. Hingga akhirnya adiknya yang kebetulan sedang kuliah di Tarakan datang.

“Terlalu lama,” ungkap Marlena menyesalkan lamanya perjalanan dari desa hingga ke Tarakan untuk mendapatkan pertolongan.

Henry juga terlihat masih tidak percaya atas kejadian yang telah dia alami, dengan waktu yang begitu singkat. Baru saja dia lega setelah melewati perjalanan panjang, dia kemudian menyaksikan istrinya bertarung dengan maut saat dioperasi, kemudian selamat dan bahagia atas kelahiran putri kelimanya. Tapi dalam waktu sekejap pula, Tuhan memanggil anaknya.

Henry terlihat bingung harus bagaimana atas pencobaan Tuhan terhadapnya. “Siapa yang mau disalahkan? Tidak ada yang salah,” tegarnya.

Ia terlihat berusaha berlapang dada. Dia kemudian menjelaskan, minimnya fasilitas kesehatan di Krayan membuat mereka harus terbang ke Tarakan. Karena hanya puskesmas, jelas sekali tak ada alat operasi di sana. Tidak hanya itu, akses transportasi darat juga sangat kurang. “Tuhan tahu masih ada tanggung jawab ibunya (Marlena). Kalau Dia (Tuhan) mengambil ibunya, anaknya ditinggal, siapa yang rawat? Iyakan? Kalau Dia (Tuhan) mengambil dua-dua, siapa yang mengurus anak-anak yang masih kecil,” ucap Henry berupaya berbesar hati dan bersyukur istrinya selamat. “Tuhan masih ingin anak-anak dirawat ibunya,” ucap Henry kemudian.

Sesekali Marlena juga menyahut dengan nada yang pelan. Maklum, dia tidak bisa bersuara keras lantaran masih merasakan sakit pada bekas jahitan di perutnya. “Masih sakit di sini,” ujarnya sembari menunjuk perutnya dengan kedua tangan.

Saya makin akrab dengan keduanya. Henry bahkan bersedia saya temui lagi saat dia bersiap terbang ke Krayan. Saat itu, Henry saya temui di rumah singgah MAF. Pertemuan kami ini adalah lanjutan pertemuan sebelumnya paska diizinkan keluar dari rumah sakit sekira pukul 16.00 Wita, Senin (20/11) lalu. Obrolan kami pun berlangsung renyah dan santai. Tapi, sesekali Henry terlihat mencoba tegar dengan apa yang dihadapi.

“Beginilah kehidupan manusia, punya pikiran pandai. Pandai dia punya omongan, tapi tidak ada yang kekal,” katanya saat saya temui, Kamis (30/11) lalu.

“Pak, peluang anak ini tipis, bapak berdoa saja. Doakan saja apa yang kami lakukan,” ungkap Henry kembali mengenang perkataan dokter saat anaknya akan dilahirkan.

Bahkan, Marlena belum sempat menyentuh buah hatinya itu karena masih dirawat. “Cuman lihat lewat HP aja,” katanya.

Informasi yang saya dapat, MAF ternyata tak hanya menyediakan pesawat gratis bagi warga yang sakit, MAF juga ternyata menyediakan penginapan bagi pasien yang datang dari pedalaman Kaltara. Letaknya bukan didekat kantor MAF, melainkan didekat RSUD Tarakan. Rumah singgah itu cukup mudah dijangkau dan sangat layak ditempati. Untuk menjangkaunya, kita harus berjalan atau mengendarai motor yang jaraknya sekitar 100 meter mengarah ke utara dari bangunan lama RSUD Tarakan.

Rumah singgah ini dua lantai. Sengaja diberikan cuma-cuma untuk pasien-pasien yang masih harus kontrol ke rumah sakit setelah mendapatkan perawatan. Saat saya menghampiri rumah singgah itu, di lantai 2 rumah itu saya banyak berbagi informasi dengan Henry. Di rumah ini, Henry tidur di kamar nomor 5. Sejauh pengamatan saya, MAF menyediakan 6 kamar dengan fasilitas air, kompor gas, kulkas dan tv. Sementara setiap kamar ada kipas angin.

Sekali lagi, semua itu diberikan secara gratis oleh pihak MAF. “Pasien yang pakai jasa kami (MAF), kami utamakan supaya hemat dalam hal kebutuhan sehari-hari,” kata Office Manager MAF Tarakan, Tom Chrislay saat saya tanya soal rumah singgah ini. (jusmankaltara@gmail.com/bersambung)


BACA JUGA

Kamis, 07 Desember 2017 09:47

Gantikan Rustan, Armin Arifuddin Jabat Ketua PNK yang Baru

TARAKAN – Setelah melalui proses yang panjang Armin Arifuddin resmi pimpin PNK Tarakan. …

Rabu, 06 Desember 2017 23:22

Warga Pedalaman Protes, MAF Terbang Bersyarat

Senin, 27 November 2017 lalu menjadi momen yang tak akan dilupakan warga pedalaman di Bumi Benuanta…

Senin, 23 Oktober 2017 14:54

Listrik Padam, Rumah Imam Masjid Hangus Terbakar

SESAYAP – Saat tengah istirahat, warga dikejutkan dengan api yang mengamuk dan menghanguskan rumah…

Sabtu, 21 Oktober 2017 11:32

Misteri, Kasasi Jamaluddin Tak Terdaftar di MA

JAKARTA – Perkembangan kasus dugaan korupsi pengadaan perlengkapan acara Pekan Olahraga Provinsi…

Kamis, 14 September 2017 23:03

Peringati Hari Perhubungan, Jalin Silaturahmi Melalui Olahraga

TARAKAN – Beberapa cabang olahraga digelar di Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas).…

Senin, 11 September 2017 10:49

Berikan Tips and Trik TOEFL Untuk Masyarakat

TARAKAN –  Saat ini, pengetahuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam dunia pekerjaan.…

Selasa, 29 Agustus 2017 20:05

One Heart, Royal Tarakan Hotel Gelar Syukuran Ulang Tahun

TARAKAN - Bertemakan 'One Heart' Royal Tarakan Hotel (RTH) merayakan malam syukuran untuk ulang tahun…

Senin, 21 Agustus 2017 12:03

Norhayati Andris Ikut Serta Dalam Perlombaan HUT RI

TARAKAN - Berbagai permainan rakyat mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI)…

Jumat, 21 Juli 2017 16:00

Cegah Kanker Serviks, BPJS Kesehatan dan Lanud Galakkan Penyuluhan

TARAKAN – Masih dalam rangkaian HUT-nya yang ke-49, BPJS Kesehatan  Kesehatan dan LANUD Tarakan…

Jumat, 21 Juli 2017 15:46

Giliran Banten dan Kalteng Kunjungi Baznas Tarakan

Sama dengan yang lainnya, Pengurus Baznas Provinsi Banten dan Kalimantan Tengah (Kalteng) juga tak mau…

Gantikan Rustan, Armin Arifuddin Jabat Ketua PNK yang Baru
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .