UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

RAGAM

Selasa, 05 Desember 2017 21:01
Cuaca Buruk, Pasien di Long Bawan Tak Dapat Diselamatkan

Derita Warga Perbatasan saat ‘Pesawat Mereka’ Tak Beroperasi (4)

PERIKSA PESAWAT : Pilot MAF Tyler Schmidt terlihat serius memeriksa pesawat sebelum berangkat. (JUSMAN/KALTARA POS)

PROKAL.CO, Berbekal informasi dari Henry yang mengaku sulit menjangkau pedalaman kecuali dengan pesawat, saya pun mencoba menelusurinya hingga ke Long Bawan, Kecamatan Krayan. Kebetulan, maskapai Mission Aviation Fellowship (MAF) Tarakan kembali ingin terbang ke Long Bawan untuk menjemput pasien yang sedang kritis. Seperti apa perjalanan saya?

 

JUSMAN, Kaltara Pos

 

SETELAH menjalani perawatan intensif, Henry dan Marlena akhirnya kembali ke desanya di Desa Pakabuan, Kecamatan Krayan, 1 Desember lalu. Sebenarnya Marlena belum bisa banyak bergerak, namun dia memutuskan harus pulang. Pasalnya, Vanzia sedang sakit. Anak keempatnya yang baru berusia 8 tahun itu membutuhkannya segera.

Hal ini tentu saja menjadi beban pikiran Henry dan Marlena. Selama ini, mereka tak biasa berpisah dengan anak-anaknya. Hanya demi melancarkan proses persalinan yang sempat membuat keduanya cemas, anak-anaknya pun ditinggalkan. Mereka bahkan tak sempat berpamitan karena mendesak. Sebenarnya, Vanzia tidak tinggal sendirian, dia tinggal bersama kakaknya, yakni Cynthia (16), Febby (15) dan Joyce (10).

Saat bertemu saya, Henry pun menyampaikan keluhannya. Tak lain adalah soal jalan menuju desanya yang masih jauh dari kata layak. Jalan-jalan utama masih bertekstur tanah yang ketika hujan datang seperti sawah yang telah dibajak dan siap ditanami. Begitu juga dengan fasilitas kesehatan, meski sudah ada, namun tidak memiliki peralatan yang memadai, sehingga ketika istrinya ingin melahirkan harus dilarikan ke Tarakan.

“Yang paling utama itu rumah sakit, pasal kalau orang sakit, biar jalan bagus, kalau jauh, percuma,” jelasnya ketika saya memberikan pertanyaan memilih antara jalan dan fasilitas kesehatan.

Penasaran dengan cerita Henry, saya pun mencoba mengunjungi Long Bawan yang merupakan pusat kota di Krayan. Upaya pun saya lakukan dengan cara berkoordinasi dengan pihak MAF agar bisa ikut terbang ke Long Bawan jika ingin menjemput pasien. Saya ingin melihat langsung proses keberangkatan mereka. Melihat Long Bawan melalui laman google maps, tampak begitu jelas desa ini berbatasan langsung dengan Malaysia, yakni daerah Bakelalan, Serawak. Cukup jauh dari Tarakan.

Jika ditarik garis lurus hingga ke Samaring Airpot yang ada di Long Bawan, maka jaraknya sekira 217,01 kilometer dengan pesawat yang dapat ditempuh dengan waktu sekira 1 jam. Sementara untuk jalur darat sangat sulit, untuk menempuhnya. “Pernah ada yang coba pakai naik motor dari Malinau, 3 hari 3 malam baru sampai,” kata Henry.

Kalau mencoba jalur darat, maka bersiaplah dengan segala risikonya. Sebab, sejauh mata memandang, daerah ini masih kaya dengan hutan. Jalannya tidak beraturan dan kebanyakan bukit. Apabila membawa kendaraan dipastikan tidak dapat ditunggangi sehingga tenaga akan habis dengan mendorong motor. “Motor kayak Mio itu tidak bisa, dia harus motor trail,” kata Henry lagi.

Hingga akhirnya panggilan yang sangat saya nantikan datang. Panggilan itu datang pada Minggu (3/11) pagi saat cuaca di Tarakan tidak bersahabat. Tom Crislay menghubungi saya. “Bro, ada orang sakit stroke di Long Bawan. Aku minta izin dulu kalau kamu mau ikut ya,” pesan Office Manager MAF Tarakan, Tom Crislay melalui akun whattshapp-nya sekira pukul 06.50 Wita.

Rasa malas yang sempat menggerogoti tubuh saya langsung hilang setelah mendapat ajakan ini. Saya langsung beranjak. Namun sayang, pesawat belum dapat diberangkatkan karena hujan deras dan awan yang masih tebal dinilai mengganggu perjalanan. “Tunggu cuaca baik,” kata Tom meminta saya sabar.

Saat itu, kata Tom, pasien sudah dalam keadaan kritis. Namun, kondisi cuaca yang tak bersahabat membuat kami harus menunggu beberapa saat. Kendala ini pun diakui Tom menjadi salah satu poin penting yang harus dipahami sebelum menolong pasien. Sementara di Krayan, pasien dan keluarganya terus menunggu kedatangan kami.

Hal ini dapat dimaklumi, karena warga yang sakit hanya dilayani oleh jasa penerbangan MAF. Daerah yang landasannya kecil dengan panjang hanya 430 meter walaupun belum beraspal, seperti yang ada di Long Alango hanya bisa didarati oleh pesawat kecil, salah satunya MAF yang selama ini lekat dengan proyek sosialnya.

Sebelumnya kami berencana berangkat pukul 09.00 Wita, kemudian mundur ke pukul 11.00 Wita. Tidak hanya di Tarakan, di Krayan juga sedang hujan deras. “Standby lah bro. Jangan jauh dari MAF ya,” pesan Tom kepada saya, sebab dia terus memantau cuaca. Apabila memungkinkan maka pesawatnya akan segera berangkat.

Saat itu pilot asal Amerika Serikat, Tyler Schmidt sudah bersiap-siap untuk berangkat. Dia terlihat gagah karena lengkap dengan pakaian khas pilotnya berwarna putih dengan topinya. Namun sayang, hingga pukul 11.30 cuaca tak kunjung mendukung. Hujan deras masih terpantau di daerah pedalaman.

Berdasarkan update peringatan dini cuaca Kalimantan Utara sekira pukul  09.40 Wita tanggal 3 Desember  2017 lalu, masih  terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat pada pukul  09.30 Wita di wilayah Kecamatan Sebuku, Sembakung, Nunukan, Mentarang Hulu, Malinau, Malinau Barat, Malinau Selatan, Sesayap Hilir, Sekatak, Tanjung Palas Utara, Tanjung Palas Tengah, Peso Hilir, Tanjung Palas, Tanjung Palas Barat Peso, Tanjung Palas Timur dan sekitarnya. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pukul 12.30 Wita.

“Berdasarkan citra satelit inframerah dan water vapor himawari-8 dan citra radar cuaca pukul 09.40 Wita, masih terdapat pertumbuhan sel awan konvektif di wilayah Kalimantan Utara dan laut Sulawesi bagian barat yang berpotensi hujan intensitas ringan-sedang di wilayah Tarakan. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung 12.30 Wita,” tulis Tom kepada saya mengutip himbauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan.

“Awan masih tebal bro... Jadi Pilot belum boleh masuk,” pesan Tom lagi.

Sekira pukul 12.00 Wita cuaca di Tarakan masih juga gerimis, namun karena sudah memungkinkan untuk terbang. Teknisi segera mempersiapkan pesawat dengan melakukan pengecekan terhadap bodi pesawat. Menggunakan payung hitam, teknisi kemudian mengisi bahan bakar pesawat yang dibeli dari Singapura. Bahan bakarnya adalah Avgas yang menurut teknisi, bahan bakar jenis ini lebih mahal dari Avtur. Bahan bakar sudah diisi. Tangki pesawat di sayap kiri dan kanan sudah penuh yang dilanjutkan dengan pengecekan menggunakan sebuah gelas khusus untuk memastikan bahan bakarnya bercampur air atau tidak. Pengecekan ini melalui lubang kecil yang ada di bawah sayap pesawat.

Untuk ukuran Long Bawan, pesawat membutuhkan waktu tempuh satu jam untuk cuaca normal. Namun apabila cuaca sedang hujan deras atau cuaca sedang buruk, penerbangan bisa lebih dari satu jam. Ketika cuaca buruk, pesawat akan terlebih dahulu berputar-putar di atas langit atau mencari alternatif lain sembari menunggu kondisi cuaca di daerah tujuan normal.

Kebetulan, karena cuaca sedang tidak bersahabat, pesawat jenis Cessna 206 itu diisi dengan 75 galon Avgas. 1 galon sama dengan 4 liter, apabila dikalikan, maka untuk 4 jam penerbangan penuh membutuhkan 300 liter Avgas.

Dengan satu orang kru, yakni pilot itu sendiri, pesawat ini mampu membawa 5 orang penumpang.

Menurut informasi yang saya dapat, pesawat yang diproduksi di Wichita, sebuah kota yang ada di Kansas Amerika Serikat ini memiliki panjang sekira 8 meter dengan lebar sayap sekira 10 meter lebih. Tingginya sekira 2,5 meter lebih dengan berat kosong sekira 980 kg. Karena beratnya tak sampai 1 ton itulah membuat pesawat ini ringan dan lebih mudah untuk terbang.

“Kalau pesawat ini mati, dia masih bisa mengudara, karena ringan,” kata teknisi yang sedang mengisi bahan bakar.

Setelah semuanya disiapkan, Tyler Schmidt kembali melakukan pengecekan pada bagian dalam pesawat. Ia terlebih dahulu membuat catatan di sebuah buku yang dia ambil dari saku celananya.  Setelah itu, dia mempersilakan saya naik dan duduk ke kursi bagian kanan depan pesawat. Saya pun merasa seolah-olah menjadi pilot kedua dalam penerbangan itu. Saya duduk di depan kemudi pesawat  yang di belakangnya sudah ada puluhan tombol yang sulit saya pahami fungsi-fungsinya.

Setelah saya duduk, teknisi kemudian memasangkan sabuk pengaman kepada saya dan bertanya apakah saya sudah siap? Dan dengan segera saya jawab, “siap!” Tak lama, pilot pun masuk dan duduk di sebelah kiri saya. Kemudian, dia menggerakkan badannya kesegala arah setelah duduk. Dia terlihat sedang mencoba, apakah kursinya aman dan dapat bergerak bebas dalam setiap waktu. Tidak hanya kursi, kemudi pesawat pun dia gerakkan dengan cara menarik dan mendorongnya, begitupun dengan bagian bawah yang dia pijak. Selanjutnya dia menggerakkan bagian sayap pesawat dengan menekan salah satu tombol yang ada di depannya hingga semua dia periksa satu persatu. Tak lama, Tyler Schmidt kembali bertanya pada saya, “Sudah siap?”

“Siap,” jawab saya dengan perasaan berdebar. Maklum, ini penerbangan perdana saya bersama MAF Tarakan yang selama ini ramai dibahas orang karena izin terbangnya.

“Oke, baiklah, agar supaya suara tidak terlalu keras terdengar, pakai ini (sembari memasangkan headphones di telinga saya). Kamu juga bisa bertanya kepada saya atau berbicara dengan saya dengan mikrofon ini (sembari mengarahkan mikrofon ke bibir saya). Oke?” ucapnya dengan ungkapan khas bahasa bule.

Selanjutnya, dia menyalakan mesin pesawat, kemudian menyalakan radio yang terhubung dengan Air Traffic Control (ATC). Benar saja, suara mesin pesawat tidak terdengar begitu keras menggunakan headphones. Melalui headphone saya juga bisa mendengar setiap percakapan yang sedang dilakukan oleh ATC dengan pilot yang akan take of ataupun akan mendarat di Bandar Udara Juwata Tarakan.

Saya juga dapat mendengar dengan bahasa Inggris Tyler Schmidt sedang meminta izin pada petugas ATC untuk melakukan penerbangan ke Long Bawan. “Permisi,” ucap pria yang akrab disapa dengan Pak Tyler itu menutup jendela di samping kanan saya yang masih terbuka sebelum kami mulai masuk ke landasan pacu Bandara Juwata Tarakan.

Dalam percakapan antara pihak ATC dan pilot lainnya, terdengar pihak ATC sedang memberikan inisial penerbangan pada pilot lainnya. Setelah itu terdengar Tyler meminta petunjuk untuk jalur penerbangannya dengan menyebut inisial  penerbangan. ATC kemudian menjawab penerbangan menuju Long Bawan dapat dilakukan setelah Lion Air yang saat itu akan segera take of.

Setelah Lion Air terbang, kami pun masuk ke landasan pacu dan Tyler langsung memacu pesawat dengan kecepatan tinggi. Tanpa terasa, pesawat bermesin tunggal ini ternyata sudah melayang di udara. Sejauh mata memadang, terlihat jelas awan tipis masih menyelimuti langit-langit Tarakan yang di bawahnya berjejer tambak yang terlihat rapi dan indah dari ketinggian.

Penerbangan ini bukanlah penerbangan pertama bagi Tyler, karena dia sudah terbang berkali-kali ke pedalaman untuk menjemput orang sakit. Sebelum itu, dia sudah menjadi pilot MAF di Amerika Serikat selama 1,5 Tahun. Namun karena di negaranya itu sudah modern dengan fasilitas yang lengkap dan maju, sehingga jasa MAF disana tidak diminati. Ia pun dikirim ke Indonesia untuk mengabdi menjalankan visi misi sosial MAF, yakni untuk membantu orang-orang sakit yang membutuhkan bantuan secara gratis.

“Karena di Amerika tidak ada keperluan pesawat yang kecil. Semua daerah ada jalan yang bagus, ambulans yang bagus juga. Tapi di sini (Kaltara) belum ada,” ucapnya sembari memegang topinya layaknya orang menggambarkan rasa keprihatinan.

Ia mengaku sangat prihatin dengan warga pedalaman. Ia pun mengaku siap kapan saja dipanggil untuk membantu warga pedalaman yang sakit. “Hati saya (mengatakan), pertolongan untuk semua orang Indonesia yang sakit, kapan pun saya siap,” ujarnya dengan Bahasa Indonesia yang sedikit tidak teratur.

Sebelum ke Tarakan, Tyler terlebih dahulu belajar bahasa Indonesia di Salatiga, Jawa Tengah selama 2 tahun. Selanjutnya, oleh MAF dia ditugaskan di MAF Tarakan dan saat ini dia sudah bekerja sekira 1,5 tahun.

Dalam perjalanan, Tyler juga memberi tahu saya bahwa penerbangan kami kala itu berada di ketinggian 2.000 kaki. Ia tidak dapat berpindah jalur, termasuk ketinggian sebab disaat bersamaan juga ada pesawat lain di belakangnya yang juga ingin ke Long Bawan. “Saya tidak bisa berpindah, kerana di belakang ada TNI,” ucapnya sembari menunjukkan ke belakang.

Dia kemudian mengatakan bahwa dia tidak bisa memberikan banyak informasi lantaran harus terus berkoordinasi dengan ATC. “77 Pak Tyler,” ucap salah seorang petugas yang terdengar dari radio kami. Suara itu berasal dari Kantor MAF Tarakan yang meminta izin untuk menyampaikan informasi dengan segera dipersilakan oleh Tyler.

“Pak Tyler, ya kami baru dapat informasi Long Bawan bahwa pasien itu sudah meninggal,” ucapnya dengan nada suara tinggi dan merendah ketika menyebutkan ungkapan meninggal dan meminta Tyler untuk kembali ke Tarakan.

“Ahhh... Kasihan, baiklah pak,” ucap Tyler dengan nada sedih. “Saya ikut sedih pada keluarga disana,” ujar Tyler lagi.

Mendengar kabar itu, Tyler segera menghubungi ATC untuk kembali mendarat di Tarakan. “My pick up return to Tarakan,” ucap Tyler pada ATC.

“My pick up return to Tarakan,” ucap seorang wanita dari ATC untuk memastikan keinginan kami untuk kembali ke Tarakan. “Orang sakit di Long Bawan sudah meninggal,” jawab Tyler lagi.

Padahal perjalanan kami baru berlangsung sekira 10 menit 40 detik menuju Long Bawan. Namun karena mengetahui kondisi pasien yang sudah meninggal, kami akhirnya harus kembali. (jusmankaltara@gmail.com/bersambung)


BACA JUGA

Kamis, 07 Desember 2017 09:47

Gantikan Rustan, Armin Arifuddin Jabat Ketua PNK yang Baru

TARAKAN – Setelah melalui proses yang panjang Armin Arifuddin resmi pimpin PNK Tarakan. …

Rabu, 06 Desember 2017 23:22

Warga Pedalaman Protes, MAF Terbang Bersyarat

Senin, 27 November 2017 lalu menjadi momen yang tak akan dilupakan warga pedalaman di Bumi Benuanta…

Senin, 23 Oktober 2017 14:54

Listrik Padam, Rumah Imam Masjid Hangus Terbakar

SESAYAP – Saat tengah istirahat, warga dikejutkan dengan api yang mengamuk dan menghanguskan rumah…

Sabtu, 21 Oktober 2017 11:32

Misteri, Kasasi Jamaluddin Tak Terdaftar di MA

JAKARTA – Perkembangan kasus dugaan korupsi pengadaan perlengkapan acara Pekan Olahraga Provinsi…

Kamis, 14 September 2017 23:03

Peringati Hari Perhubungan, Jalin Silaturahmi Melalui Olahraga

TARAKAN – Beberapa cabang olahraga digelar di Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas).…

Senin, 11 September 2017 10:49

Berikan Tips and Trik TOEFL Untuk Masyarakat

TARAKAN –  Saat ini, pengetahuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam dunia pekerjaan.…

Selasa, 29 Agustus 2017 20:05

One Heart, Royal Tarakan Hotel Gelar Syukuran Ulang Tahun

TARAKAN - Bertemakan 'One Heart' Royal Tarakan Hotel (RTH) merayakan malam syukuran untuk ulang tahun…

Senin, 21 Agustus 2017 12:03

Norhayati Andris Ikut Serta Dalam Perlombaan HUT RI

TARAKAN - Berbagai permainan rakyat mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI)…

Jumat, 21 Juli 2017 16:00

Cegah Kanker Serviks, BPJS Kesehatan dan Lanud Galakkan Penyuluhan

TARAKAN – Masih dalam rangkaian HUT-nya yang ke-49, BPJS Kesehatan  Kesehatan dan LANUD Tarakan…

Jumat, 21 Juli 2017 15:46

Giliran Banten dan Kalteng Kunjungi Baznas Tarakan

Sama dengan yang lainnya, Pengurus Baznas Provinsi Banten dan Kalimantan Tengah (Kalteng) juga tak mau…

Gantikan Rustan, Armin Arifuddin Jabat Ketua PNK yang Baru
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .