UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

RAGAM

Jumat, 29 Desember 2017 11:28
BPJS Mati, Beberapa Kali Dibawa ke Dukun

Terindikasi Kanker Payudara, Ibu Enteng Butuh Uluran Tangan

BUTUH PERHATIAN : Ibu Enteng didampingi suaminya saat ditemui Kaltara Pos di kediamannya. (JUSMAN/KALTARA POS)

PROKAL.CO, “Hasrat hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.” Inilah kalimat yang diucapkan Alimuddin melihat kondisi istrinya yang hanya bisa terbaring lemah. Ia putus asa karena berbagai metode pengobatan telah Ia upayakan, namun tak kunjung membuahkan hasil. Apa harapannya saat ini? Yuk simak ulasan berikut!

 

Jusman, Kaltara Pos

 

BAIK kaya atau miskin, tak ada yang mau sakit. Terlebih jika kondisi ekonomi keluarga tidak memadai, tentu tidak memiliki biaya yang cukup untuk menjalani biaya pengobatan. Bersyukur saat ini pemerintah telah menggulirkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) sehingga baik miskin ataupun kaya tidak perlu mengkhawatirkan biaya jika mengalami sakit. Namun tidak bagi ibu Enteng (52), Ia saat ini hanya bisa pasrah dengan keadaannya.

Hal ini saya ketahui siang kemarin melalui pesan Whatshapp seorang teman yang mengirimkan sebuah gambar wanita paruh baya tanpa mengenakan baju. Wanita paruh baya yang sudah beruban itu terlihat hanya mengenakan sarung berwarna merah bermotif bunga berwarna cokelat. Dari sisi foto, terlihat jelas jika gambar ini diambil di dalam sebuah kamar berdiding kayu. Ini dibuktikan adanya cahaya yang kontras dari lubang-lubang dinding kamar, menandakan foto diambil ketika siang hari.

Awal membukanya saya cukup terkejut, karena ternyata kedua payudaranya terlihat begitu jelas. Namun bukan hal itu yang membuat saya terkejut, melainkan sebuah luka sebesar telapak tangan orang dewasa itu terlihat sangat jelas menganga. Di pinggiran lukanya terlihat beberapa bagian yang hitam kemudian daerah tengah lukanya tampak jelas dagingnya yang sudah berlubang, persis berada di bawah payudara sebelah kiri. Diduga ibu Enteng menderita kanker payudara. Melihat gambar itu membuat saya merasa ngeri dan prihatin, hingga membawa saya penasaran tentang nasibnya.

Belum sempat meminta alamatnya, teman saya kemudian membeberkan alamat Alimuddin dan Enteng yang ada di Jalan Binalatung, RT 11, Kelurahan Pantai Amal. Untuk mengobati rasa penasaran yang memuncak, saya segera mencari kediaman wanita malang itu. Tak menemui kendala berarti, kediaman keduanya yang persis berada di ujung Jalan Binalatung, Pantai Amal, langsung saya temukan. Aksesnya saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya, sebagian besar jalan sudah beraspal, namun tetap harus pelan-pelan ketika sudah berada di ujung Jalan Binalatung. Karena masih agregat dan banyak lubang terlebih jika sudah masuk ke gang yang berpasir.

“Permisi bu, mau tanya rumah ibu Enteng di mana yah?” tanya saya kepada warga yang sedang sibuk mengikat rumput laut di tali bettang yang saya jumpai di RT 11. Sayang sekali nama itu sedikit asing bagi warga RT 11, setelah beberapa menit berusaha memikirkan siapakah ibu Enteng itu hasilnya tetap saja tidak ada yang tahu. “Warga yang sakit itu nah bu,” kata saya.

“Oh mama Akbar,” katanya sembari mengangkat dan menunjuk ke sebuah bangunan rumah yang berhadapan langsung dengan bibir pantai Binalatung itu.

Berjarak sekira 20 meter dari tempat saya bertanya, saya berjalan pelan-pelan dengan sepeda motor bersama rekan saya Dewi. Melewati satu rumah warga, akhirnya saya menemukan rumah tersebut. Sekira 20 meter dari bibir pantai, terdapat sebuah pondok-pondok yang kemudian di petak-petak menjadi beberapa bagian. Jika menghadap ke laut, maka petakan yang berada paling kiri adalah kediaman Alimuddin dan istrinya yang sedang sakit keras itu. Persis seperti gambar rumah yang telah dikirimkan oleh rekan saya sebelumnya.

Saya kemudian memarkir motor saya persis di depan rumahnya. Tak lama kemudian keluar seorang pria paruh baya berbaju merah maron dengan celana panjang tampak ingin keluar. Saya segera menyapa pria dengan tinggi sekira 168 cm yang terlihat kurus itu dengan menanyakan apakah ini rumah Ibu Enteng. “Iya betul, mari pak,” jawabnya dengan nada terdengar lirih seakan terharu menerima kedatangan kami.

Melihat kedatangan kami, Ia segera menggeser pintunya sehingga sedikit terbuka lebar. Saat menginjakkan kaki di kaki limanya, langkah saya sontak terhenti. Yah, pasalnya saya mendengar suara yang khas, menunjukkan bahwa orang itu sedang kesakitan. Setelah saya menyimaknya, saya baru sadar jika ternyata suara itu adalah Ibu Enteng terdengar hingga luar rumah.

Kami dipersilakan masuk oleh bapak Alimuddin di ruang tamunya yang berukuran sekira 6,25 meter persegi itu. Tinggi lantai rumah dengan atap rumah pun sekira 3 meter, dengan jarak lantai dengan plafon dari terpal itu sekira dua meter. Dari ruang tamu itu saya duduk menatap jelas ke arah dapur, terlihat hanya ada pakaian yang bergelantungan dari ruang tamu hingga ke bagian dalam rumah. Sejauh mata memandang, saya dapat memperkirakan luas rumah yang disewa Rp 200 ribu per bulan itu hanya sekira 35 meter persegi. Rumah yang dengan rincian 7x5 meter itu juga hanya berdinding kayu, bagian dapur berdinding seng bekas, disekat-sekat menggunakan triplek.

Alimuddin menceritakan, 6 tahun terakhir Ia sudah menjadi warga Pantai Amal. 4 tahun Ia menjadi nelayan udang, namun gagal karena tambatnya hanyut terbawa gelombang. Dua tahun belakangan ini Ia mencoba peruntungan di rumput laut.

Namun belum memperoleh hasil apa-apa, istrinya sejak setahun terakhir ini mulai sakit-sakitan, sehingga harus bolak-balik ke kampung halamannya di Wajo, Sulawesi Selatan. Sehingga alat-alatnya untuk menanam rumput laut pun Ia jual agar istrinya bisa berobat.

Saat ini Ia hanya menggantungkan hidupnya pada anak bungsunya yang juga tinggal di RT 11 Pantai Amal. Namun anaknya itu juga hanya bisa membantunya seadanya karena anak bungsunya itu sudah berkeluarga dan memiliki 2 anak. “Sekarang cuma ikut-ikut sama anak,” katanya.

Setahun terakhir, Alimuddin menceritakan, istrinya sudah mencoba segala macam jenis pengobatan. Ia mengaku sudah pernah ke dukun, baik di Sulawesi maupun di Tarakan. Namun tak kunjung sembuh, malah semakin parah. “Kalau ada orang kasih tahu tempat orang pintar pasti saya datangi,” katanya kemarin juga ingin menemui seseorang yang diceritakan oleh tetangganya.

Sakit istrinya semakin parah sejak 4 bulan belakangan ini meskipun sudah pernah dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan selama 5 hari 5 malam. Oleh dokter diambil sampel untuk mengetahui jenis penyakit kankernya. Setelah itu dokter memperbolehkan dia pulang, namun kondisinya tak kunjung membuahkan hasil positif.

Setelah keluar, kondisi ekonomi Alimuddin kemudian semakin terhimpit, bahkan tidak mampu membayar iuran BPJS-nya per bulan sebesar Rp 25.500 dan saat ini sudah menunggak 5 bulan. Jika ditotal selama 5 bulan untuk dua orang tunggakannya sudah Rp 254.000. Kaltara pos yang coba menelusuri tunggakannya melalui https://daftar.bpjs-kesehatan.go.id/bpjs-checking/ menemukan jika Alimuddin dan Istrinya terakhir membayar BPJS pada 26 Juli 2017. Sehingga statusnya saat ini menjadi non aktif. “Eh bapak lihat sendirilah kondisiku,” katanya ketika ditanya kenapa tidak membayar iuran tersebut dengan mata berkaca-kaca.

“Maunya peluk gunung apa dikata tangan tak sampai,” kata Alimuddin mengakui saat ini sudah putus asa, karena tidak memiliki biaya untuk kembali ke rumah sakit sebab BPJS-nya juga sudah tidak aktif lagi.

“Saya sudah pasrah pak, beginilah sudah,” katanya lagi masih mengharapkan pihak-pihak yang ingin membantunya untuk keluar dari masalahnya itu.

Tidak hanya itu, saat ini sudah hampir 20 hari istrinya tidak dapat mengonsumsi nasi ataupun makanan lainnya kecuali air. Hal ini terjadi karena rahang istrinya sangat sulit digerakkan. Sehingga hanya bisa memasukkan air ke dalam mulutnya itupun hanya dengan sedotan. “Untung ada giginya yang sudah ompong jadi lewat situ air,” kata Alimuddin.

Kepada pembaca setia Kaltara Pos yang ingin membantunya Ibu Enteng bisa datang langsung ke kediamannya yang ada di Jalan Binalatung, RT 11 atau berkoordinasi dengan Kaltara Pos.(***)


BACA JUGA

Selasa, 19 Desember 2017 21:54
TARAKAN

Lanud Tarakan Raih Penghargaan Pengelolaan Keungan Terbaik

TARAKAN - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Lanud Tarakan. Dibawah kepemimpinan Kolonel Pnb Didik…

Kamis, 14 Desember 2017 18:39

Khidmat, Telkom Sukses Gelar Peringatan Maulid Nabi

TARAKAN – Suasana khidmat, haru dan menyentuh perasaan menyeruak dari para peserta acara peringatan…

Kamis, 07 Desember 2017 09:47

Gantikan Rustan, Armin Arifuddin Jabat Ketua PNK yang Baru

TARAKAN – Setelah melalui proses yang panjang Armin Arifuddin resmi pimpin PNK Tarakan. …

Rabu, 06 Desember 2017 23:22

Warga Pedalaman Protes, MAF Terbang Bersyarat

Senin, 27 November 2017 lalu menjadi momen yang tak akan dilupakan warga pedalaman di Bumi Benuanta…

Senin, 23 Oktober 2017 14:54

Listrik Padam, Rumah Imam Masjid Hangus Terbakar

SESAYAP – Saat tengah istirahat, warga dikejutkan dengan api yang mengamuk dan menghanguskan rumah…

Sabtu, 21 Oktober 2017 11:32

Misteri, Kasasi Jamaluddin Tak Terdaftar di MA

JAKARTA – Perkembangan kasus dugaan korupsi pengadaan perlengkapan acara Pekan Olahraga Provinsi…

Kamis, 14 September 2017 23:03

Peringati Hari Perhubungan, Jalin Silaturahmi Melalui Olahraga

TARAKAN – Beberapa cabang olahraga digelar di Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas).…

Senin, 11 September 2017 10:49

Berikan Tips and Trik TOEFL Untuk Masyarakat

TARAKAN –  Saat ini, pengetahuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam dunia pekerjaan.…

Selasa, 29 Agustus 2017 20:05

One Heart, Royal Tarakan Hotel Gelar Syukuran Ulang Tahun

TARAKAN - Bertemakan 'One Heart' Royal Tarakan Hotel (RTH) merayakan malam syukuran untuk ulang tahun…

Senin, 21 Agustus 2017 12:03

Norhayati Andris Ikut Serta Dalam Perlombaan HUT RI

TARAKAN - Berbagai permainan rakyat mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI)…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .