UTAMA | METRO BULUNGAN | TARAKAN | NUNUKAN | RAGAM | PEREMPUAN | HALO POLISI | OPINI BAH!

TARAKAN

Jumat, 09 Februari 2018 12:50
Beberkan Hasil Investigasi, Semua Instansi Diberi Tugas

Pemahaman Awak Kapal Masih Kurang saat Kecelakaan

SIMULASI : Pelatihan penyelamatan penumpang yang digelar KNKT di Pelabuhan Tengkayu I. (Eliazar/ Kaltara Pos)

PROKAL.CO, TARAKAN - Setelah melakukan investigasi terhadap kecelakaan pelayaran SB Rejeki Baru Kharisma dan SB Anugrah Expres, Komite Nasional Pelayaran Transportasi (KNKT) akhirnya membeberkan hasilnya. Dari hasil investigasi tersebut, ditmukan beberapa faktor penyebab terjadinya kecelakaan dan kelalaian instansi terkait. Sehingga KNKT berdasarkan fungsinya mengeluarkan rekomendasi untuk dilakanakan oleh Direktorat Jendral Perhubunga Laut, Kementerian Perhubugan, KSOP Kelas III Tarakan, Dishub Kota Tarakan, Dishub Kabupaten Bulungan dan Pemilik atau Operator Speedboat.

Ketua KNKT Dr. Ir. Soerjanto Tjahjono mengatakan, rekomendasi yang dikeluarkan pihaknya wajib untuk dijalankan oleh instansi yang dimaksud. Apabila rekomendasi yang dikeluarkan tidak dilaksanakan, maka nanti kementerian terkait dapat mengambil sikap. Rekomendasi ini dapat diakses oleh siapa saja di websaite KNKT, sehingga siapa saja bisa mengawasi termasuk media masa. “Kami hanya mengeluarkan rekomendasi, kalau nggak dilaksanakan keterlaluanlah. Karena kan sudah ada korban,” urainya.

Selanjutnya dari instasi terkait agar benar-benar melakukan pengawasan terhadap aktivitas speedboat di pelabuhan. Sebab dari rekomendasi yang diberikan sudah sangat jelas, kalaupun ada yang tidak jelas maka agar dikoordinasikan dengan KNKT.

Selanjutnya media masa juga harus membantu mengawal agar rekomendasi ini benar-benar dijalankan. Misalnya saja, tidak lagi menaruh barang di atas speedboat, hingga menyediakan pintu darurat.

Dari pertemuan sebelumnya, KSOP telah memberikan waktu 2 bulan pada pengusaha speedboat untuk melakukan perubahan pada speedboat. “Kalau (pengusaha speedboat) tidak melaksanakan jangan boleh beroperasi,” katanya.

KNKT sendiri enggan menyebut jika ada kelalaian pada kecelakaan pelayaran ini, disebabkan semua instansi terdapat kekurangan dalam menjalankan fungsinya. KNKT tidak ingin menyalahkan siapapun baik itu regulator, motoris, maupun penumpang. Sebab untuk menangani hal itu, belum ada aturan yang jelas untuk mengatur.

Meskipun pihaknya mememiliki hasil investigasi, namun hasil ini tidak dapat digunakan dalam persidangan. “Laporan kami tidak bisa dipakai di pengdilan, karena laporan kami tidak dimaksudkan untuk menghukum, untuk apa kita hukum kalau habis itu terjadi lagi,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala KSOP Kelas III Tarakan, Letkol Marinir Abd Rahman mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengawasan sejak awal. Saat sertifikasi pihaknya melakukan pemeriksaan alat-alat keselamatan. Begitu pun jika ada kelebihan penumpang, pihaknya pasti melakukan tindakan tegas dengan menurunkan penumpang. “Satu orang saja lebihnya pasti kita turunkan,” tegasnya saat ditemui seusai press rilis kemarin.

Sementara pada kecelakaan pelayaran SB Rejeki Baru Kharisma, pihaknya mengacu pada manifes penumpang yang berjumlah 48 penumpang. Namun berdasarkan laporan akhir ditemukan fakta-fakta bahwa jumlah penumpang sebanyak 55 orang termasuk ABK. “Kalau berbicara tentang kelebihan manifes, kalau kita Syahbandar mengacu kepada manifes ada 48,” tutupnya menolak dikatakan lalai.

Selain membuka hasil investigasi, KNKT juga menggelar simulasi saat terjadi kecelakaan. Hasil simulasi itu, ternyata pemahaman awak kapal dalam melakukan penyelematan masih sangat kurang. Hal itu disampaikan Dr. Ir. Soerjanto Tjahjono usai memantau kegiatan simulasi yang dilakukan pihaknya bersama Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Tarakan dan Dinas Perhubungan (Dishub).

Menurutnya, pemahaman awak kapal dari hal-hal yang kecil terhadap keselamatan berlayar masih sangat kurang. Misalnya saja dalam hal pemakaian life jacket, masih ditemui kesalahan. Kemudian cara melompat dari atas speedboat juga demikian.

“Meski sudah dikasih teori tapi masih salah semua. Kemarin saat kecelakaan kalau ada ditanggapi pasti tidak ada korban. Meski pun ada kecelakaan apa boleh buat, tapi apa perlu harus ada korban,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Seorjanto, meski masih didapati adanya kekurangan pemahaman oleh awak kapal, namun dengan dilakukan simulasi untuk pertama kalinya, bisa sedikit menambah pengetauan terhadap awak kapal.

“Jadi sudah kita berikan training keselamatan dan tanggap darurat. Kemudian nanti akan diberikan training memadamkan api. Memang kelihatannya gampang, tapi kalau mereka panik pasti akan susah nantinya,” katanya.

Tidak hanya itu, saat mendatangi Pelabuhan Tengkayu I, pihaknya masih mendapati banyak speedboat yang tidak memiliki pintu darurat. Untuk itu, pihaknya meminta kepada instansi yang melakukan pengawasan, dalam hal ini KSOP agar kedepannya apabila masih ada speedboat tidak memiliki pintu darurat, maka disarankan tidak diberikan surat izin operasi. “Beberapa kalangan di sini juga sudah berniat untuk mengubah itu, dan mereka akan membuat pintu darurat,” imbuhnya.

Selain pemahaman yang masih kurang, pihaknya juga sangat menyoroti speedboat di wilayah Kaltara yang masih minimum terhadap kelayakan keselamatan. Menurutnya, minimum speedboat harus memiliki pintu darurat, tidak menaruh barang di atas speedboat, dan tidak merokok di sekitar pelabuhan. “Minimal itulah yang dilakukan oleh awak kapal untuk memenuhi minimum keselamatan,” pungkasnya. (kj/zar)


BACA JUGA

Rabu, 23 Maret 2016 17:10

Akhirnya! Terminal Bandara Juwata Tarakan Resmi Dibuka

<p>TARAKAN &ndash; Presiden Jokowi akhirnya menekan tombol peresmian Terminal Bandara Internasional…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .